Membaca dan Bercerita Untuk Stimulasi Perkembangan si Buah Hati

Membaca dan bercerita merupakan salah satu stimulasi yang dapat merangsang multiple intelligence atau kecerdasan majemuk seorang anak. Anak yang selalu distimulasi akan berkembang dengan optimal, dan ini adalah tugas setiap orang tua.

Terkadang, kita sebagai orang tua sulit sekali memberikan waktu yang sedikit pada sang buah hati untuk membacakan dongeng ataupun hanya sekedar bercerita pada mereka. Padahal, menurut Rini Hildayani, Msi, seorang psikolog, dengan membaca dan bercerita akan memberikan manfaat dari berbagai sisi kecerdasan sang anak, “ demikian ungkapnya pada acara talkshow yang diadakan Dancow Parenting Center dan Delta Radio 99.1 FM pada Kamis, 05 Februari 2009.

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang dapat diperoleh dengan membaca dan bercerita:

  • Aspek bahasa
    Dibacakan cerita dan selalu diajak berkomunikasi, akan menambah perbendaharaan kata anak dan juga merupakan ajang bagi anak untuk belajar merangkai kalimat
  • Aspek motorik
    Melalui kegiatan membaca dan bercerita, motorik halus dan motorik kasar anak dapat dilatih. Motorik halus dapat dilatih pada saat anak membolak-balik halaman buku. Sedangkan motorik kasar dapat dilatih pada saat anak diminta untuk menirukan gerakan si tokoh cerita, misalnya melompat, berlari, dll
  • Aspek emosi
    Kegiatan membaca dan bercerita ini dapat mempererat interaksi antara orang tua dan sang buah hatinya
  • Aspek moral
    Melalui kegiatan ini orang tua dapat menanamkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak. Anak dapat mengetahui hal-hal yang baik dan buruk, sehingga hal ini dapat bermanfaat bagi kehidupannya kelak
Apakah Perbedaan Membaca dan Bercerita?
Menurut Rini, ” membaca adalah kegiatan yang menggunakan suatu media, misalnya buku. Dan biasanya, orang yang membaca buku tersebut, akan bersuara seperti yang tertulis di buku, walaupun kadang tidak selalu. Namun, apabila bercerita atau yang juga disebut mendongeng, biasanya tidak menggunakan media buku, sehingga si pembaca akan berimprovisasi sendiri atau sesuai dengan keinginan pendengarnya, yang dalam hal ini adalah anak-anak. Namun, kedua kegiatan ini sama-sama efektif untuk stimulasi sang buah hati.”

Berbagai topik dapat dikenalkan pada anak sesuai dengan usia mereka. Misalnya pada anak usia 1 tahun, kita dapat memberikan topik mengenai anggota tubuh mereka, karena pada usia ini anak mulai sadar dengan anggota tubuh mereka, dan pada usia ini kita juga harus merangsang fungsi indera mereka. Pada anak usia 3 tahun, anak mulai sadar mengenai jenis kelamin, kita mulai dapat menanamkan nilai-nilai moral dan mengajarkan hal-hal yang baik dan yang buruk. Sedangkan pada usia 5 tahun, dimana kemampuan membaca anak biasanya sudah mulai ada, maka kita dapat membiarkan anak untuk melatih kemampuan membacanyanya tersebut dan biarkan anak memilih topiknya sendiri.

Bacakan Dengan Menarik Ya Bunda......
Menurut Rosi Setiawan, seorang praktisi dari Komunitas Read a Loud dalam acara yang sama, membacakan cerita pada anak haruslah dengan hati. Bila kita membaca atau bercerita dengan hati, maka biasanya akan lebih enak didengar, karena biasanya akan disertai dnegan intonasi suara yang sesuai dengan isi ceritanya, misalnya menjerit, menangis, berteriak, atau tertawa, dan hal ini tentunya sangat menarik bagi setiap anak yang mendengarkan.

”Bila kita membiasakan untuk membaca dan bercerita pada anak setiap harinya, minimal 20 menit perharinya, maka anak akan terasah kecerdasannya. Namun, bila mereka bosan, kita dapat membuat kegiatan membaca dan bercerita lebih beragam, misalnya menggunakan alat bantu seperti boneka, gambar, dll.

”Kegiatan membaca dan bercerita ini akan menstimulasi anak untuk bercerita dan akan merangsang anak untuk bertanya tentang semua hal yang ingin mereka ketahui. Dan orang tua harus siap untuk menjawab pertanyaan mereka. Jawablah pertanyaan mereka dengan jujur dan jangan dipatahkan, karena ini akan melatih rasa percaya diri mereka. Apabila kita mematahkan pertanyaan anak, maka akan membuat anak menjadi minder,” demikian penjelasan Rosi dan Rini.

Membaca Dan Makan...
Menurut Dra. Rienani Mahadi, seorang praktisi gizi dari PT. Nestle Indonesia, ada kaitan antara membaca dan makan. Menurutnya, makanan yang diberikan pada sang buah hati haruslah diberikan dengan cara yang menarik dan mendidik. Dan salah satu cara yang menarik dan mendidik tersebut adalah dengan cara membaca dan bercerita. Buatlah suasana makan menjadi suasana menyenangkan dan jangan jadikan makan hanya sebagai target untuk anak,” demikian saran Rienani.

Untuk mendukung semua kegiatan si kecil, tentulah kebutuhan nutrisi tidak boleh diabaikan. Anak harus memperoleh makanan yang lengkap dan seimbang, 4 sehat 5 sempurna, yang terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah, dan susu.

Namun, selain harus mengandung semua unsur zat gizi tersebut, Rienani menekankan bahwa sebaiknya buah hati kita tidak boleh sampai kekurangan zat besi, yakni mineral yang diperlukan untuk mendukung tumbuh kembang si kecil agar optimal. Menurutnya, zat besi sangat diperlukan untuk mendukung kapasitas belajar si kecil.

Sumber makanan yang mengandung zat besi antara lain adalah hati, daging, kuning telur, susu, sayuran hijau, dan kacang-kacangan. Makanan sumber zat besi tersebut juga dipengaruhi oleh zat gizi lain dalam proses penyerapannya. Salah satunya adalah protein. Menurut Rienani, protein dalam bahan makanan membuat zat-zat gizi lain dala makanan akan terserap dengan mudah. Jadi, 3 gelas susu setiap hari akan membantu penyerapan zat besi dan juga zat-zat gizi lainnya, disamping kita juga memperoleh manfaat nutrisi dari susu tersebut.

Share artikel ini:

Artikel Terkait