Membacakan Cerita Untuk Balita

Pada saat anak kita melihat dunia nyata, saat itu jugalah Tuhan sudah memberikannya kapasitas untuk belajar (learning) agar bisa beradaptasi dengan lingkungan, yang disebut jalur belajar. Jalur itu adalah: melihat, mendengarkan, merasakan, menyentuh, mencium, dan melakukan.

Agar anak cepat mendapatkan materi untuk beradaptasi, maka kita berkewajiban untuk mengoptimalkan jalur-jalur tersebut. Jalur itu tidak bisa belajar sendiri atau mengajarkan sesuatu pada anak kita. Jalur itu hanya media semata.

Nah, storytelling, misalnya dalam bentuk mendongengkan sesuatu atau membacakan cerita dari buku atau majalah, termasuk  kegiatan yang sangat penting untuk mengoptimalkan jalur belajar. Ada banyak manfaat yang diperoleh anak dari aktivitas yang sebetulnya bisa dilakukan oleh semua orangtua ini. Antara lain adalah:

  • Mengurangi ketakutan terhadap hal-hal yang selama ini tidak diketahuinya atau ditakuti. Ceritakan pahlawan kecil yang berani mengatasi rasa takut saat ke dokter untuk mengurangi / mengontrol ketakutan dia.
  • Mengasah intelektual, misalnya kosakatanya bertambah, minatnya untuk membaca akan muncul, dan pengetahuannya akan bertambah.
  • Mengajarkan moral atau mental dalam menghadapi hidup. Banyak orang yang sudah sukses, tapi giliran digali kembali motif dan nilai-nilai hidupnya, dia merujuk ke pengalaman yang ia alami di waktu kecil.
  • Mengembangkan imajinasi. Ini sangat penting, bahkan kata Einstein, imajinasi itu lebih berperan ketimbang pengetahuan. Kita tahu bahwa imajinasi yang diasah dengan bagus akan menyuburukan kreativitas dan inspirasi. Dan, semua karya, termasuk yang kita lakukan saat ini, sebagian besarnya dimainkan oleh kreativitas dan inspirasi.
  • Menghibur hati si buah hati, yang dalam ajaran keimanannya dikatakan sebagai perbuatan yang akan mendapatkan pahala.

Tapi karena sekarang sekarang sudah era teknologi, bagaimana kalau kita kasih saja CD atau TV, sehingga kita tidak usah repot-repot?” Sepertinya pemikiran ini tidak bisa kita hindari saat ini. Tetapi, yang perlu kita sadari adalah, semua teknologi itu tidak memiliki jiwa yang bisa berkomunikasi dengan anak kita sehingga interaksi langsung, melalui bacaan dengan suara atau peraga, tetap dibutuhkan. Semoga bermanfaat

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor


 

Share artikel ini:

Artikel Terkait