Membahagiakan Jiwa Anak

Siapa yang tak ingin anaknya menjadi periang, senang, dan bahagia? Semua orangtua pasti menginginkan itu. Anak yang jiwanya bahagia tak hanya menyenangkan orangtua semata. Kebahagiaan juga membuat dia punya modal yang lebih besar untuk sukses di hari ini dan nanti.

Misalnya dia lebih mudah bergaul, hubungannya dengan orang lain hangat, lebih mudah  mendapatkan informasi, lebih optimis, tidak mudah stres, dan dalam beberapa hal, dia lebih cepat menguasai keahlian atau lebih cepat mendapatkan solusi.

Tidak semua anak tumbuh menjadi periang, senang dan bahagia. Ada yang karena kondisi sesaat (temporer), ada yang sudah menjadi tipikal kepribadiannya, tapi ada juga yang karena persoalan yang tak terselesaikan di dalam batinnya. Mungkin karena stres atau terlalu banyak menyimpan hal-hal negatif.

Untuk yang karena kondisi sesaat, misalnya permintaannya kita tolak karena alasan yang sehat, mungkin biasa. Begitu juga untuk yang karena tipikal kepribadian. Dia kurang periang bukan karena sedih, tapi memang sudah begitu bawaannya. Yang perlu kita antisipasi adalah yang terakhir.

Hal-hal yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya antara lain:

  1. Menciptakan hubungan yang mengandung kasih sayang atau ucapan yang membesarkan hati, bukan hubungan yang sedikit-sedikit cekcok atau ucapan yang menyakitkan.
  2. Mewujudkan kasih sayang melalui tindakan, misalnya mencium kepala, memeluk, menghormati usahanya, peduli untuk ikut menyelesaikan masalahnya, dan lain-lain. Anak akan semakin besar hatinya jika dia tahu bahwa orang di sekelilingnya sangat mendukungnya.
  3. Memberi disiplin dengan cara yang ramah. Menurut banyak studi, anak yang dibesarkan dengan disiplin, ternyata jiwanya lebih bahagia dan optimis (kuat). Tapi perlu kita ingat, disiplin juga bisa membuat anak stres bila diterapkan dengan cara yang salah.
  4. Memberikan peranan dan tanggung jawab sesuai perkembangannya. Salah satu sumber kebahagian jiwa adalah adanya dinamika dalam hidup. Memberi tanggung jawab termasuk cara supaya jiwa anak kita dinamis, misalnya  mengatur kamar tidurnya, dan lain-lain.
  5. Mengupayakan situasi rumah yang interaktif satu sama lain. Peralatan elektronik dapat membuat anak dan orangtua sama-sama mengisolasikan diri jika berlebihan sehingga kehilangan kedekatan batin. 

Hal-hal di atas pasti mudah dipahami. Tapi, untuk menjalankannya, semua tahu itu sulit. Pasalnya, setiap keluarga pasti ada masalah, baik yang bersumber dari anak, kita, atau dari luar. Karena itu, selain kita dituntut untuk pandai-pandai bersyukur, kita pun harus  belajar pandai-pandai bersabar.

Jadi, kuncinya adalah bersyukur dan bersabar. Semoga bermanfaat

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait