Membantu Anak Mengerjakan PR

Di prakteknya, PR itu bisa berperan ganda, dalam arti antara bisa menjadi tantangan (challenge) dan bisa pula menjadi beban (stressor). Karena itu, keterlibatan orangtua sangat diperlukan.

Seperti kita tahu, tantangan adalah sesuatu yang memotivasi anak untuk menunjukkan kebolehan atau kehebatan. Tantangan rasanya positif bagi jiwa. 

Lain halnya dengan beban. Ia ditakuti dan rasanya menekan sehingga sangat mungkin membuat anak stress atau perkembangannya kurang seimbang (terbebani).

Agar potensi demikian bisa terantisipasi atau terkurangi, maka kita perlu mengambil tindakan untuk membantu mereka. Bentuknya bisa antara lain:

  • Menghormati pilihan dia untuk mengontrol diri, misalnya bertanya kapan mau mengerjakan PR.  Semakin jelas jawabanya, berarti semakin bisa dia mengontol diri. Kita tinggal mengikuti dan mengingatkan 
  • Membantu persiapkan fisik dan psikisnya.  Tapi ini harus dengan cara yang melatih kemandiriannya. Jangan sampai terlalu terlibat sehingga dia tinggal pakai. Bantuan ini penting untuk menunjukkan ke dia bahwa kita “care” untuk urusan sekolahnya.
  • Ciptakan suasana yang tidak menegangkan, bikin yang santai. Kalau pun kita sempat terbawa emosi melihat sikapnya, katakanlah begitu, segera kita me-recover suasana. Akan lebih bagus jika kita bekerjasama antara suami-istri atau orang dewasa di rumah.
  • Mempermudah pemahaman. Begitu sudah masuk konten dari PR itu, bantuan kita yang penting adalah: mempermudah pemahaman, memberi penjelasan yang menantang dia, menunjukkan gunanya atau menciptakan suasana yang  menghibur
  • Mengajak dia untuk latihan bernalar (tantangan), tapi jangan sampai dia tidak pede karena selalu kita SALAHKAN atau KALAHKAN. Misalnya dia kesulitan, lalu kita jelaskan, dan akhirnya dia memilih hasil yang menurut kita keliru. Sekali-sekali, kita perlu membiarkan dia keliru asalkan sudah melalui proses yang benar.

Hal lain yang juga penting adalah jangan sampai kita menciptakan atau membiarkan godaan. Ini karena kemampuan dia mengontrol diri masih belum stabil. Misalnya, kita menyuruh dia mengerjakan PR tapi kita membiarkan acara TV menggodanya. 

Terkadang ada beberapa PR yang di luar kontrol manajemen sekolah, misalnya terlalu banyak halamannya atau setiap guru menugaskan PR sehingga benar-benar membebani.

Bantuan kita sangat penting, dalam bentuk mencatat peristiwa itu, lalu membicarakannya dengan wali murid lain, kemudian mengirimnya ke sekolah untuk mendapatkan penanganan. Jangan sampai kita hanya mengeluhkan dan membiarkan.

Semoga bermanfaat


* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait