Membantu Anak dalam Menghadapi Musibah Bencana Alam

Akhir-akhir ini, banyak musibah bencana alam yang menimpa sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya banjir, angin puting beliung, tanah longsor, gunung meletus, gempa bumi, dsb. Musibah bencana alam merupakan salah satu bentuk musibah yang dapat menjadi faktor penyebab seseorang menjadi stress. Hal ini terjadi akibat tidak adanya kesiapan fisik maupun mental seseorang dalam menerima situasi atau kondisi yang datang secara tiba-tiba, dan biasanya diikuti dengan berbagai kerugian atau penderitaan, baik dari segi fisik maupun psikis, berupa hilangnya harta maupun nyawa. Musibah ini tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tapi juga dirasakan oleh anak-anak. Bahkan bila kita mengingat kondisi fisik dan mental anak, yang secara umum lebih lemah dan labil, maka bisa saja dampak musibah, justru akan lebih dirasakan oleh anak dan bisa sangat berpengaruh pada optimalitas proses tumbuh kembangnya.

Umumnya dampak negatif yang bisa terlihat pada diri anak akibat musibah ini misalnya trauma berkepanjangan, depresi, sikap apatis dan kehilangan semangat hidup pada anak. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, diperlukan usaha atau penanganan yang tepat, agar anak mampu menghadapi musibah dengan sikap yang benar. Sehingga diharapkan anak dapat kembali berada dalam situasi dan kondisi yang tidak menghambat optimalitas pertumbuhan dan perkembangannya di kemudian hari.

Usaha-usaha yang bisa dilakukan untuk membantu anak menyikapi musibah bencana alam dengan benar, diantaranya adalah sbb :

  1. Ajak anak untuk menerima musibah dengan lapang dada. Misalnya dengan memberi contoh atau model bagaimana bersikap sabar dan menceritakan kisah orang-orang yang tegar pada saat ditimpa musibah. Yakinkan pada anak bahwa setiap musibah pasti ada hikmahnya dan masih ada hari esok yang lebih baik.
  2. Bimbing anak untuk bisa menemukan cara-cara melepaskan beban berat yang dirasakannya. Misalnya melalui permainan atau berbagai penyaluran hobinya, seperti menulis, bercerita, melukis atau bernyanyi. Bila anak tetap merasa tertekan, seperti timbul rasa cemas yang berlebihan, selalu dihantui mimpi-mimpi buruk , sulit berkonsentrasi, letih lesu dan kurang bersemangat sepanjang hari, maka segera minta bantuan ahli untuk memberikan terapi atau konseling sampai anak merasakan tekanan jiwanya menjadi berkurang.
  3. Besarkan hati anak agar tidak merasa sendiri dalam menghadapi musibah tersebut. Dukung anak dengan sikap empati dan bersahabat, serta libatkan anak dalam pergaulan dengan teman-temannya yang mengalami nasib yang sama. Bila memungkinkan tunjukkan pada anak bahwa ada banyak orang lain yang juga mengalami musibah dan mengalami nasib serupa, misalnya dengan melihat berita di televisi, radio atau surat kabar.
  4. Tanamkan kepercayaan diri pada anak, bahwa ia pasti akan mampu mengatasi segala musibah yang terjadi dengan baik. Berikan pengertian bahwa segala musibah yang diberikan Tuhan, pasti tidak akan melebihi batas kemampuan manusia. Selain itu ajak anak untuk berdoa atau mendekatkan diri pada Tuhan, agar selalu diberikan kekuatan untuk mengatasi musibah yang terjadi.
  5. Jaga kondisi kesehatan anak dengan memberi makan makanan yang bergizi dan mendapatkan istirahat yang cukup. Bila anak mengalami luka fisik, segera obati dan rawat dengan baik.
  6. Upayakan semaksimal mungkin untuk mengajak anak untuk melawan aktivitas-aktivitas yang biasanya ia lakukan sehari-hari, seperti mengusahakan agar anak tetap bersekolah walaupun dengan fasilitas seadanya, mengusahakan anak untuk tetap memiliki lahan bermain atau sarana prasarana yang memungkinkan untuk tetap beraktivitas atau melakukan sesuatu yang menyenangkan baginya.

Share artikel ini:

Artikel Terkait