Membedakan Learning & Education: Belajar Bisa dari Mana Saja

“Jika Anda menggesek-gesekkan dua benda keras untuk menghasil api, itu cara yang sudah kuno sebab korek api sudah ditemukan. Tapi, sistem pendidikan kita sudah ketinggalan zaman”. Ini komentar seseorang menanggani ketidakberdayaan pendidikan terhadap tuntutan baru. Tapi, ada lagi yang menjawab, “sistem pendidikan memang punya banyak kelemahan, namun apa sudah ada kekuatan yang terbukti berhasil mengubah manusia selain pendidikan? Yang lain masih coba-coba.”

Itu tadi komentar yang menggambarkan adanya dua pandangan berbeda tentang pendidikan formal (education). Memang, faktanya pendidikan formal itu tetaplah penting karena kemampuannya dalam mengubah manusia. Tetapi, pihak pendidikan juga menyadari tidak bisa berperan seoptimal mungkin dalam mengembangkan anak berdasarkan keunikan-nya. Sekolah mengambil porsi sebagian tanggung jawab pengembangan. Soal itu sebagian kecil atau sebagian besar, tergantung sekolahnya. Semakin bagus sekolah itu, semakin besar porsi yang diambil.

Di samping itu, sekolah juga memiliki keterikatan dengan peraturan eksternal. Artinya, materi pendidikan di sekolah itu lebih difokuskan pada pemenuhan kebutuhan anak yang distandarkan pada kepentingan orang banyak. Ada memang beberapa sekolah yang mengembangkan anak secara seimbang antara aspek fisik, intelektual, emosional, psikososial, dan spiritual. Tapi pada prakteknya, sekolah tetap memberikan porsi yang lebih besar pada pengembangan aspek intelektual atau kognitif.

Bagaimana kita menyikapi plus-minus ini? Kalau mau fair, memang learning untuk anak itu tidak bisa dipasrahkan semuanya pada lembaga pendidikan (sekolah). Bahwa sekolah memainkan sebagian peranan pembelajaran (learning). Apa itu learning? Learning adalah proses perubahan yang ditempuh seseorang (anak-anak atau orang dewasa) ke arah yang lebih baik secara terus menerus melalui tindakan, pengetahuan, atau pengalaman.

Kalau mengacu ke UNESCO, pembelajaran yang perlu diterapkan ke anak adalah menguasai materi life skill (ketrampilan hidup) yang empat itu: learning to know, learning to be, learning to do, dan learning to live together. Empat pilar ini bisa kita jadikan acuan dalam mengajarkan anak tentang hal-hal yang penting bagi dia sesuai perkembangannya.

Untuk anak yang masih di SD, learning to know-nya bisa kita ajarkan dalam bentuk menegaskan pemahaman tentang sebab-akibat dari tindakannya yang kecil-kecil, memahamkan apa kelebihannya dan kekurangan yang perlu diperbaiki, memahamkan pentingnya tujuan dalam setiap tindakan. Setiap dia meminta sesuatu, bisa kita tanyakan apa manfaatnya, apa resikonya, dan seterusnya. Belajar untuk mengetahui diri sendiri sangat penting.

Sedangkan untuk learning to be-nya bisa kita ajarkan dalam bentuk bagaimana menyikapi hal-hal yang tidak diinginkan secara positif, misalnya kegagalan kecil atau kekecewaan terhadap temannya atau keadaan. Intinya, anak-anak perlu dilatih menangani kesulitan dengan cara yang positif. Kemampuan mengatur emosi akan menjadi kunci dalam mengaktifkan kelebihan-kelebihan anak. Belum tentu anak yang akademiknya bagus punya prestasi hidup yang bagus pula. Kalau dia ngambekan, mutungan, atau temparemental, mungkin saja tidak.

Adapun untuk learning to do-nya bisa kita ajarkan dalam bentuk penugasan praktis yang sesuai. Misalnya cara menaruh barang yang tepat, cara membersihkan perabot yang baik, dan lain-lain. Bahkan terkadang perlu kita kasih kesempatan untuk membantu pekerjaan asalkan itu sesuai. Kemampuan praktek sama pentingnya dengan kemampuan berpikir.

Terakhir, untuk learning to live together-nya bisa diajarkan dalam bentuk memahamkan aturan sopan santun yang tidak ada tulisannya, memilih bahasa atau ungkapan yang tepat, membedakan cara menghormati orang sekitar yang berbeda, dan lain-lain.

Intinya, learning adalah menjadikan seluruh yang ada di dunia sekitar kita sebagai materi untuk perbaikan. “Wah, kalau anak hanya diajari yang kecil-kecil itu, apa manfaatnya? Toh, nanti besar dia tahu sendiri?” Bukti dari kehidupan orang dewasa menunjukkan bahwa yang membuat seseorang melakukan sesuatu itu bukan soal tahu atau mampu, melainkan kesadaran, keterlatihan, dan kepekaan. Ini semua diraih melalui proses dari kecil.

Share artikel ini:

Artikel Terkait