Memilih Fasilitas Antar-Jemput

Hidup di kota besar memang bisa dibilang gampang-gampang-susah. Semua fasilitas yang kita butuhkan sudah tersedia dan tinggal dipilih. Pilihan fasilitas antar-jemput seperti apapun pasti ada, antara lain ojek, taksi, atau kendaraan khusus.

Namun, sebailknya hubungan kita dengan orang lain cenderung tidak terlalu dekat dan kurang mendalam. Untuk anak-anak, hal ini dapat menjadi masalah, sebab berhubungan dengan keamanannya. Banyak tindak pelanggaran justru dilakukan atau melibatkan orang yang selama ini dipercaya orangtuanya untuk melakukan antar-jemput.

Bila kita sudah terbiasa menggunakan fasilitas antar-jemput, memang ada sisi positifnya. Dengan menggunakan fasilitas antar-jemput, anak-anak dapat saling berinteraksi dan tidak menjadi makhluk eksklusif. Selain itu, anak-anak juga belajar untuk bertoleransi.

Namun, di sisi lain, ada hal-hal yang perlu diantisipasi. Salah satunya, jangan sampai fasilitas antar-jemput justru mengganggu kenyamanan dan kesenangan anak, misalnya anak harus bangun jam 4 pagi dan harus cepat-cepat menyiapkan diri. Atau, pulangnya terlalu terlambat sehingga waktu bermainnya habis di jalan karena rute jemputannya jauh.

Secara keamanan, akan lebih baik bila kita memilih fasilitas antar-jemput yang dikoordinasi oleh pihak sekolah. Hal ini dimaksudkan bila terjadi sesuatu, jalur untuk menyelesaikannya lebih jelas. Karena bila tidak, perlu ada usaha dari kita untuk menemukan referensi yang jelas dan kokoh.

Dengan keragaman anak yang ikut serta dalam fasilitas antar-jemput tersebut, yang perlu diantisipasi lagi adalah terjadinya praktek bully di kendaraan. Karenanya, usahakan memilih posisi dan karakteristik rombongan yang jauh dari praktek tersebut.

Misalnya, anak kita bukan satu-satunya perempuan di situ, bukan yang paling kecil, atau bukan yang kelihatannya paling jagoan sehingga berpotensi melakukan praktek bully ke anak lain.

Hal ini bisa dideteksi bila kita sering mengajak dialog anak tentang keadaan jemputan dan tidak memaksanya untuk harus ikut jemputan tertentu sebab akan membuat dia menyembunyikan sesuatu yang seharusnya dapat kita ketahui.

Hal lainnya, kita juga perlu menciptakan hubungan yang personal (hubungan sebagai sesama manusia) dengan sopir atau penjemputnya, bukan semata hubungan yang transaksional dan profesional. Hubungan ini akan berdampak baik untuknya, anak kita dan juga untuk kita.

Akan lebih sempurna bila kita juga mengenal orangtua lain yang menggunakan fasilitas jemputan yang sama. Hal ini dapat mengurangi potensi terjadinya praktek pelanggaran.

Pada intinya, bila kita menggunakan fasilitas antar-jemput apapun, yang tidak boleh kita lakukan adalah memberikan cek kosong kepercayaan, percaya 100% kepada sekolah, sopir, dan anak, tanpa adanya kontrol dari kita. Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait