Memperkuat Identitas Gender

Anak-anak memang pembelajar sejati. Mereka punya rasa ingin tahu (curiosity) yang luar biasa. Itu biasanya diekspresikan ke dalam berbagai bentuk, misalnya menjajal berbagai hal, termasuk yang menurut kita kurang lazim.

 

Sangat mungkin terjadi  misalnya anak kita yang laki-laki mulai tertarik menjajal permainan kakaknya atau adiknya yang perempuan, misalnya main boneka cantik, atau juga sebaliknya. Bagaimana kita bersikap?

 

Maksudnya, apakah kita perlu melihat sebagai ekspresi pembelajaran ataukah itu perlu dibaca sebagai tanda-tanda adanya gangguan identitas gender, seperti yang diistilahkah para psikolog? 

 

Ini memang tidak mudah. Sikap yang bijak adalah memberi penjelasan lebih dulu. Ketika kita melihat si putri sudah mulai asyik dengan permainan bola, lebih-lebih ditambah juga dengan suka mencoba pakaian laki-laki, berilah penjelasan.

 

Artinya, jangan sampai kita menghakimi atau melarang secara kasar. Takutnya, jangan-jangan anak kita sedang bereksperimen untuk memenuhi kuriositasnya. Yang juga perlu kita hindari adalah membiarkan yang akhirnya dapat menimbulkan habit.

 

Ciri-ciri umum yang perlu kita kenali antara lain:

 

§  Sudah punya keinginan yang terus menerus / kuat untuk menjadi gender lawan jenis

§  Menggunakan pakaian atau hal lain (termasuk permainan) yang menjadi identitas gender lawan jenis

§  Punya dorongan yang kuat untuk berpartisipasi pada kegiatan lawan jenis

§  Merasa tidak nyaman (melakukan penolakan) dengan perilaku yang pas untuk gendernya

 

Perilaku tersebut bisa berakhir ketika pengetahuan dan kesadarannya tentang gender semakin lengkap. Tapi bisa juga tidak berakhir sampai usianya remaja. Bahkan ada yang kebablasan sampai dewasa.

 

Memang pembiaran bukanlah faktor tunggal. Ada sejumlah faktor yang melatarbelakangi kenapa seseorang mengalami gangguan ini. Meski demikian, cara yang kita tempuh adalah jangan sampai menggunakan cara-cara yang memberangus kreativitas dan kuriositas (curiosity) anak. Inilah cara yang paling sehat agar anak-anak tetap bahagia dengan segala inisiatifnya.

 

Jadi, tetap mendorong anak-anak untuk banyak bermain, namun di sisi lain perlu ada pengawasan dan pengarahan agar tetap on track

 

Semoga bermanfaat

Share artikel ini:

Artikel Terkait