Menanamkan Esensi Berbagi Dalam Hidup

Dulu, sebagian besar kita mungkin tumbuh di masyarakat yang menganut sistem paguyuban, gotong royong, saling membantu, dan saling berbagi antar keluarga atau antar tetangga. Tapi, sekarang ini, mungkin sebagian besar anak-anak kita tumbuh di masyarakat yang sistem sosialnya individualis.

Sistem sosial yang seperti ini terkadang ikut mempengaruhi sikap anak. Misalnya, dia lebih memilih menyimpan barang-barang yang sudah tidak terpakai ketimbang membaginya ke anak yang masih membutuhkan.

Dia lebih sering terdidik oleh keadaan untuk menonjolkan individualis-nya ketimbang sosialis-nya. Momen Lebaran kali ini dapat kita gunakan sebagai pintu masuk untuk mencairkan sikap hidup yang lebih ke individualis itu supaya tidak kebablasan.

Ini tidak berarti kita harus menghilangkan individualis-nya itu. Yang perlu kita capai adalah keseimbangan antara kapan harus individual dan kapan perlu sosial. Berbagi adalah cara yang bagus untuk memunculkan kapasitas sosial itu.

Apa yang penting kita lakukan saat ingin mengajarkan nilai berbagi pada anak? Di momen Lebaran ini, mungkin kita bisa bertanya mengenai apa yang ia pikirkan untuk diberikan kepada saudara yang masih membutuhkan?

Apapun inisiatifnya, tentu perlu kita hormati agar lebih terdorong. Begitu kita salahkan atau kita koreksi, biasanya ini malah menghambat anak untuk memahami esensi berbagi.

Memang, pengarahan tetap diperlukan, tetapi yang sifatnya terus mendorong, bukan malah sebaliknya. Beberapa pengarahan penting itu antara lain:

  • Arahkan untuk tidak berlebihan (terlalu pelit atau terlalu baik)
  • Arahkan untuk membagi sesuatu yang masih ada gunanya kepada orang yang tepat
  • Arahkan untuk tidak menyertai ungkapan yang merendahkan atau menyombongkan diri

Hal lain yang juga penting lagi terkadang adalah menjelaskan alasannya. Namanya anak-anak, mungkin dia memberi sesuatu dengan alasan supaya diberi sesuatu.

Sebagai proses pendidikan, hal demikian perlu dilihat sebagai kewajaran. Hanya saja, kita tetap perlu mengarahkan dia untuk berpegang pada alasan-alasan moral yang abstrak, yang dalam dunia orang dewasa dikenal dengan keimanan.

Kita bisa mengarahkan bahwa alasan memberi itu adalah seruan Tuhan (ikhlas), yang nanti akan mendapatkan balasan dari Tuhan dalam bentuk yang bermacam-macam. Soal dibalas atau tidak, dari orang yang diberi, ini bukan alasan utamanya.

Demikian semoga bisa kita ajarkan.


* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait