Mencari Akar Keminderan

“Berkorbanlah tetapi jangan menjadi korban”

Banyak dalil yang menunjukkan bahwa kita ini bangsa yang merasa minder di tengah pergaulan internasional. Kita lebih percaya diri memakai barang luar negeri ketimbang produk dalam negeri. Wawasan kebahasaan kita masih dianggap rendah jika belum bisa berbicara lancar dengan bahasa Inggris.

Dalam beberapa hal memang faktanya barang luar negeri itu lebih bagus kualitasnya? Dan bahasa Inggris itu lebih mendunia ketimbang bahasa Indonesia? Hanya, yang perlu digarisbawahi adalah mentalitasnya. Jika semua itu kita gunakan dengan mentalitas inferior, tentu ini sangat menghambat kemajuan kita, baik sebagai pribadi dan bangsa.

Kenapa inferioritas menjadi penghambat? Fakta sejarah membuktikan bahwa tidak ada orang minder yang bisa berkarya, berkompetisi, atau bekerjasama dengan sukses. Apa yang membuat seseorang (baik sebagai pribadi atau bangsa) itu minder? Secara psikologi, keminderan itu tercipta dari tiga proses. Pertama, persepsi atau konsepsi. Kalau seseorang menciptakan persepsi yang negatif atau minus terhadap dirinya, kemungkinan yang muncul adalah: antara minder dan over (sombong yang tidak jelas alasannya). Persepsi ini bisa dari luar (orangtua, lingkungan, masyarakat, negara) atau dari dalam, hasil kesimpulan kita sendiri.

Karena itu, di sini kita sudah sering membahas tentang pentingnya menanamkan konsep-diri yang positif dan akurat kepada anak-anak. Ini agar si anak nantinya tidak menjadi orang yang minder atau over. Penanaman konsep-diri oleh orangtua pada anak-anaknya, entah itu disengaja atau tidak, akan terbawa sampai anak itu dewasa. Kita menyebutnya dengan ungkapan: ”Bagaikan mengukir di atas batu.”

Kedua, aksi atau tindakan. Dari pikiran lahirlah tindakan. Artinya, kalau kita sudah menciptakan konsepsi minus dan negatif terhadap diri kita, maka tak mungkin kita akan melakukan sesuatu yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi diri ke tingkat yang optimal. Terbukti, banyak orang yang berkesimpulan dirinya tidak punya kelebihan dan akhirnya melakukan sesuatu berdasarkan kesimpulannya itu. Padahal, kelebihan itu sejatinya mereka dimiliki.

Ketiga, bukti. Bukti di sini adalah feedback dari dunia di luar kita, entah keadaan atau manusia. Kita sudah sering mendengar bahwa respon dunia di luar kita tergantung dari respon yang kita ciptakan terhadap dunia itu. Inilah yang disebut ”the law of attraction”, hukum gravitasi. Pikiran yang kita lempar ke luar akan mendatangkan balasan serupa.

Dengan kata lain, orang yang menciptakan konsepsi minus terhadap dirinya, ditambah dengan aksi yang me-minus-kan dirinya, tidak berarti akan mendapatkan belas kasihan dari dunia. Seringkali malah dijadikan sasaran yang paling empuk untuk dijadikan korban oleh dunia. Dengan semangat kemerdekaan ini, marilah kita mengubah konsepsi-diri dan membuktikannya dengan aksi. Inilah jalan agar dunia ini punya feedback positif terhadap diri kita. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait