Mendorong Imajinasi Balita

Banyak riset yang mengungkapkan bahwa anak yang imajinasinya dirangsang untuk berkembang secara baik, akan membuatnya lebih kreatif, lebih termotivasi untuk berprestasi, lebih mampu memahami kenyataan, lebih cepat mahir berkomunikasi,  lebih mampu memainkan peranan, lebih mampu menguasai emosi, dan lain-lain. 

Dunia orang dewasa membuktikan bahwa semua karya manusia berawal dari imajinasinya.  Sebelum praktek, pasti ada konsep. Sebelum tindakan, pasti ada tujuan atau keinginan. Itulah salah satu alasan kenapa Einstein mengatakan imajinasi itu lebih berperan ketimbang pengetahuan.

Karena itu, rangsangan untuk mengembangkan imajinasi anak sangat perlu dilakukan oleh orangtua, terutama saat anak berusia 3-6 tahun. Hanya saja memang perlu kita garis bawahi disini bahwa rangsangan itu sebaiknya mampu menggerakkan imajinasi aktif dalam porsi yang lebih besar.

Maksudnya adalah yang dapat meningkatkan kemampuannya dalam mengigat, mencita-citakan, menciptakan, memperbaiki, merekayasa jurus-jurus dalam menghadapi hidup, memainkan peranan, dan lain sebagainya.

Ada banyak cara untuk menggerakkan imajinasi aktif itu, misalnya antara lain memfasilitasi permainan, puzzle, menghafal bentuk, nyanyian, cerita, bermain peran, menggambar, game, tebak-tebakan yang mendidik, dan lain-lain.

Jika semua bentuk rangsangan yang kita pilih itu dapat mendukung kemampuan akademiknya sekaligus, misalnya dapat membuat dia belajar berhitung, membaca, atau menggambar, tentu ini akan sangat membantu.

Rangsangan imajinasi pasif pun tetap dibutuhkan, tetapi kalau sampai berlebihan, akan  membuat anak kita kurang gerak. Padahal, mengaktifkan gerakan bagi balita itu termasuk cara yang sangat direkomendasikan untuk memperbaiki kemampuan belajarnya saat ini dan nanti. Misalnya saja film kartun. Sebagian film kartun memang tidak semata berfungsi sebagai tayangan, tetapi juga tuntutan. Namun, jika si kecil menjadi lebih banyak duduk di atas kasur, lebih-lebih jika ditambah dengan menggumbar hobi ngemilnya, repot ’kan jadinya?

Hal lain yang juga penting untuk diingat adalah jangan sampai kita terlalu banyak memberi rangsangan yang malah menekan, misalnya mengatur kehidupannya dengan ”To-do-list”. Setelah pulang sekolah, langsung ikut kursus, ikut lomba ini dan itu, malamnya masih juga diharuskan mengerjakan PR dari sekolahnya.

Meskipun rangsangan seperti ini berangkat dari inisiatif yang baik, tetapi jika berlebihan porsinya, dapat merenggut kebebasan anak kita untuk berkembang, berkreasi dan berimajinasi. Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait