Mengajarkan Anak Bagaimana Mengatasi Kehilangan

Hal-hal buruk juga kerap terjadi pada anak, namanya juga kehidupan. Misalnya saja kehilangan, katakanlah kehilangan binatang tersayang, anggota keluarga, sahabat, atau mungkin kehilangan salah satu orangtua.

Tentu, namanya juga kehilangan, sudah pasti akan memberikan dampak psikis tertentu  yang mungkin tidak ringan dan juga mungkin bisa berkepanjangan. Misalnya saja anak menjadi  murung, malas-malasan, atau stress dan depresi.

Apa yang perlu kita lakukan jika misalnya hal-hal buruk itu terjadi pada anak kita, misalnya kehilangan sahabatnya atau kehilangan binatang tersayang? Bisakah kita cuek saja dan membiarkan waktu yang akan menyelesaikan sendiri atau kita melarang dia bersedih?

Waktu memang bisa menyelesaikan. Hanya saja, jika kita bergantung waktu, seringkali derita ini tidak mengajarkan anak secara optimal tentang bagaimana memperkuat jiwa dalam menghadapi kenyataan.

Di dunia orang dewasa ada jutaan manusia yang meskipun sudah mengalami penderitaan berkali-kali tapi efek pencerahan dan kekuatan jiwanya tidak meningkat. Ini karena menyerahkan pada waktu untuk menyelesaikan.

Demikian juga ketika kita mengeluarkan larangan agar anak jangan bersedih. Namanya juga perasaan, tentu tidak mungkin dilarang. Dilarang atau tidak, perasaan tetap ada. Yang dibutuhkan di sini adalah mengelolanya dan menggunakannya untuk kekuatan.

Bagaimana mengelola dan menggunakan inilah tugas kita untuk mengajarkannya. Kita perlu mengajarkan anak tentang bagaimana belajar. Belajar di sini adalah melakukan perubahan diri dari kenyataan hidup yang tidak diinginkan, seperti kehilangan.

Nah, langkah-langkah yang bisa kita tempuh untuk learning itu antara lain:

Pertama, mendampingi anak merasakan berbagai kekecewaan dengan empati (ucapan yang membesarkan hati dan bantuan)  

Kedua, memberikan pemahaman yang postif dengan memanfaatkan ajaran atau logika yang benar, misalnya ada takdir Tuhan, ada keharusan merelakan yang telah pergi, dan seterusnya)

Ketiga, membantu anak belajar mengontrol diri dengan cara memberi disiplin hidup atau tanggung jawab, membersihkan kamar, disiplin belajar untuk mengejar cita-cita, atau menyelesaikan target

Keempat, memberikan hiburan yang sesuai, misalnya bermain, berwisata, atau bersilaturrahim ke saudara.

Kelima, membantu anak mengeluarkan kekuatannya, misalnya karakter, sikap, dan ilmunya lalu memberi apresiasi. Berbagai pengalaman buruk itu gunanya adalah untuk kekuatan jiwa dan inilah yang paling penting.

Intinya, kita perlu mengajarkan anak menggunakan pengalaman buruk itu untuk melatih kekuatan. Jangan sampai dia malah dilemahkan oleh pengalaman itu. Atau juga jangan sampai dia hanya melewatinya tanpa ada guna.


Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait