Mengajarkan Anak untuk Menghargai Orang Lain

Pada tahap awal, anak dan remaja dunia terpaku pada “budaya kemas”. Tradisi masyarakat berkasta, feodalis, dan kapitalis, yang cenderung melihat orang dari apa yang dimiliki, dan bukan apa ‘isi kepala’ dan kepribadiannya. Makin terpelajar suatu bangsa, semakin berbudaya masyarakatnya dan tidak menilai orang dari kemasan luarnya. Oleh karena itu hendaknya kita mendidik anak menghargai orang lain.

Kebanyakan di antara kita beranggapan makin ‘wah’ apa yang dikenakan, pilihan menunya yang berkelas, akan semakin tinggi apresiasi orang terhadapnya. Menjadi minder kalau tidak berkemas diri seperti itu merupakan sikap yang keliru, dan bukan nilai yang layak diadopsi.

Ascribed state Vs Achievement state
Betul, masyarakat terkotak dalam dua pilihan sikap hidup. Ada kelompok yang dihormati hanya karena dari mana ia berasal. Warisan ningrat menempatkan seseorang berharga dan dihormati, tanpa memperhatikan kepintaran atau kualitas kepribadiannya.

Bahwa seseorang dihargai karena dia mewarisi posisi terhormat. Mereka ini yang kita sebut berstatus ascribe state. Bertolak belakang dengan sikap menghormati seseorang karena hasil karya antara lain: ide, pemikiran, penemuan, penelitian, prestasi di lingkungannya dan masyarakat, suri-tauladan yang patut, berbuat sesuai yang dia katakan, dan sebagainya. Mereka ini kelompok orang berprestasi, dengan posisi terhormat sebagai kalangan achievement state.

Sejak kecil, setiap anak hendaknya dididik untuk menghargai dan menghormati semua orang sama rata (egaliter) tanpa perlu membedakan asal usul, kedudukan, atau kepemilikannya. Orang lebih layak dihargai atas prestasi dan eloknya sosok kepribadiannya.

Pergaulan di antara teman-teman yang di rumahnya dididik menyikapi orang sesuai dengan derajat atau kelas masyarakat. Pentingnya pendidikan humaniora bertujuan supaya setiap anak melihat orang lain semua sama rata.

Didikan anak juga harus menganut sikap yang sama terhadap orang cacat, menyandang kelemahan fisik, atau kekurangan lainnya. Bukan karena miskin dan cacat, penghargaan kita berkurang. Atau hanya karena lebih kaya kita memberi hormat yang lebih dibanding terhadap yang tidak kaya.

Perlunya anak membaca karya sastra juga menanamkan sikap menyamaratakan orang lain sebagai makhluk yang dilahirkan sama. Saling menghargai dan tetap menghormati, kendati penampilan dan apa yang dikenakannya tidak mewakili ilmunya atau kedudukannya.

Pendidikan dengan memuji
Pendidikan kita kurang banyak memuji. Malah cenderung mencela dibanding menghargai. Jiwa anak akan sehat kalau lebih banyak dipuji, dan tidak dicela, kendati yang anak melakukan kekeliruan atau kurang baik. Mencela hanya mengantarkan anak menjadi rendah diri. Memuji menambah percaya diri.

Sikap negatif terhadap kelemahan, kekurangan sebaiknya tidak ditanamkan dalam pendidikan anak di rumah maupun sekolah. Tidak perlu malu kalau memiliki tinggi badan kurang, karena nilai diri kita bukanlah di situ. Hanya karena indah isi kepala kita, dan elok kepribadian kita, orang menghormati kita, apa pun yang kita miliki dan kenakan, betapapun tak indahnya sosok tubuh kita.

Percuma berpenampilan serba sempurna dan indah, kalau isi kepala tak penuh, dan kepribadian tak elok. Pakaian boleh serba bermerk, dan mobil berharga termahal, percuma kalau tak ada kehormatan yang tersimpan di dalamnya. Maka sepatutnya tak perlu mencemaskan kekurangan diri kita harus tetap percaya diri.

Share artikel ini:

Artikel Terkait