Mengajarkan Anak Merawat Barang-Barangnya

Sebagian dari kita mungkin melihat ini sebagai hal yang sepele. Mungkin kita sering berpikir bahwa anak tidak perlu diajari bagaimana cara merawat barang-barangnya karena ia nanti akan mengetahuinya sendiri. Jika benar pikiran demikian yang muncul di benak Anda, Anda harus segera mengakhirinya. Mengapa?

Bila kita menginginkan anak kita mengetahui sesuatu, kita harus memang harus memberitahu dirinya. Namun, bila kita menginginkan anak kita melakukan sesuatu atau tergerak oleh sesuatu, tidak cukup dengan memberitahu dirinya.

Terlebih bila hal tersebut menyangkut nilai-nilai, cara berpikir, atau mentalitas. Penting bagi kita untuk menanamkan kepada anak sedari kecil melalui penyadaran, pembiasaan, dan pengasuhan. Meski semua orang akan tahu kejujuran itu baik, namun hanya orang yang dilatih untuk bersikap jujur yang dapat menjalankannya.

Demikian juga dengan kebiasaan merawat barang-barang. Ini bukan sekedar soal barang yang mudah dibuang dan mudah dibeli. Namun, ini menyangkut banyak hal, dari soal mental hingga moral.

Anak yang dilatih untuk menjaga barang-barangnya, akan belajar untuk menghargai usaha orangtua. Ia juga akan belajar menghargai pemberian orangtua. Dalam prosesnya, ia juga akan belajar untuk bertanggung jawab.

Sebaliknya jika kita mengabaikan hal ini dan lalai mengajarkan anak mengenai apa yang dilakukan terhadap barangnya, akan dilakukan juga terhadap barang orang lain, misalnya mengotori buku temannya atau tidak mengembalikan barang yang dipinjamnya. 

Bahkan jika tidak segera dibenahi, dapat memungkinkan munculnya perilaku yang sangat kita takutkan. Sebut saja misalnya memakai barang milik orang lain tanpa izin, merusak atau mencuri.

Tindakan yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan atau menanamkan kesadaran untuk menghargai barang antara lain:

Menjelaskan melalui kasus. Misalnya, dia menaruh buku sembarangan, lalu kita ajarkan bagaimana seharusnya anak lakukan.

Menerapkan hukuman yang mendidik. Untuk kasus tertentu yang menurut kita berpotensi berbahaya, hukuman harus diterapkan, hukuman yang dimaksud adalah hukuman yang mendidik, bukan yang menyiksa. Misalnya, kita tidak mau membelikan tas lagi kecuali tas yang sudah kita belikan itu dirawat. Atau, kita menyuruhnya untuk meminta maaf kepada kakak atau adiknya jika ia merusak barang-barang milik kakak atau adiknya dengan gaya yang serius.

Mencontohkan dan membudayakan. Jangan hanya anak saja yang kita suruh untuk bertanggungjawab dan berdisiplin terhadap barang-barangnya. Orang dewasa di rumah pun harus melakukan hal yang sama. Misalnya, jika si om mau memakai barang milik si kecil, kita haruskan si om untuk meminta izin kepada si kecil juga.

Mendisiplinkan pengawasan. Jangan pernah berpikir bahwa begitu kita memberitahu si kecil, lantas selanjutnya semua akan berjalan sesuai harapan. Pikiran semacam ini harus kita buang. Mendidik itu adalah proses yang bertahap dan terus-menerus.

Mengingat tidak ada orangtua yang sempurna dalam mengawasi, mengoreksi, dan mendisiplinkan anaknya, maka di sinilah pentingnya nilai-nilai dan ajaran, baik agama atau kearifan tradisi.  Ajaran akan menyempurnakan kekurangan dan keterbatasan kita.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait