Mengarahkan Kekritisan Anak

Bebas Berkembang
Karakteristik anak yang paling menonjol adalah adanya dorongan untuk berkembang sebebas mungkin, seperti rasa ingin tahu yang begitu besar, sikap kritis yang tajam, self-questioning yang tinggi, dan lain-lain.

Dengan watak dasar seperti itu, ditambah dengan berlimpahnya informasi yang ia terima, anak-anak mengembangkan dirinya dengan pola yang terus dinamis dari waktu ke waktu.

Sayangnya, menurut penelitian dan kenyataan, tidak semua orangtua punya kemampuan dalam memfasilitasi kebebasan anak untuk berkembang sehingga tumbuh menjadi individu yang kreatif, ekploratif, inisiatif, dan seterusnya.

Pola Asuh Yang Membelenggu
Menurut Charles L. Whitfield, ada beberapa orangtua atau pola asuh yang dapat berpotensi menghambat kebebasan anak dalam berkembang. Daftar di bawah ini bisa kita jadikan audit-diri:

  • Orangtua / keluarga yang co-dependence (menghilangkan jatidiri si anak, memangkas kreativitas, mendoktrin supaya menjadi seperti orang lain dengan cara membandingkan, dst)
  • Orangtua / keluarga yang dilanda penyakit mental & psikologis
  • Pola asuh yang terlalu ketat baik secara fisik, emosi, mental dan spiritual, terlalu menuntut kesempurnaan menurut versi egonya, atau orangtua yang miskin keahlian, baik tehnis dan mental dalam pola asuhnya

Mengarahkan Daya Kritis
Bagaimana supaya kita bisa mengarahkan kekritisan si anak pada masa perkembangannya? Beberapa hal yang bisa kita lakukan, antara lain:

  1. Tunjukkan sikap positif. Jangan sampai si anak menangkap bahwa daya kritis itu jelek sehingga perlu dihindari. Pancing dengan pertanyaan yang bisa mendorong dia menjelaskan kenapa pertanyaan itu muncul lalu kita menjelaskannya.
  2. Perbanyak penjelasan yang mencerahkan, bukan indoktrinasi, lebih-lebih ancaman. Anak yang bertanya tentang Tuhan bisa kita jelaskan melalui analogi siapa yang membuat kursi, makanan, dan seterusnya. Jika segala ada yang menciptakan, maka alam pun begitu. Bisa juga dengan menunjukkan fakta-fakta supaya anak punya bahan untuk menyimpulkan.
  3. Hindari penjelasan yang berbau sentimen atau ”membela-diri”. Akan lebih baik kalau kita selalu mengacu pada nilai-nilai kehidupan. Ini agar si dia tidak terbebani dengan persepsi orangtua yang subyektif. Biarkan dia bereksplorasi.
  4. Ajarkan batasan agar terhindar dari distorsi. Si anak tentu belum belajar membedakan mana prilaku yang kreatif dan mana yang bukan. Agar dia bisa belajar, kitalah yang perlu memberikan pembanding dan penjelasan.
  5. Harus mengembangkan diri. Ini hukum alam. Orangtua yang mengembangkan dirinya, entah dengan cara apapun, akan lebih mudah mengembangkan anaknya.

Kita diajarkan untuk memahami bahwa anak itu bukan milik kita, melainkan titipan Tuhan untuk kita. Ini dimaksudkan agar kita terhindar dari nafsu ingin mencetak anak menjadi apa yang kita inginkan. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait