Mengasah Kemampuan Sosial Anak Secara Praktis

Kemampuan Sosial
Sederhananya, kemampuan sosial itu bisa diartikan sebagai kapasitas untuk berinteraksi dengan sesama. Bagi anak-anak, kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan. Jika tidak, kemungkinan bisa membuat anak memiliki anti-social personality disorder. Misalnya kurang bisa toleran, gampang konflik, kurang bisa bergaul, dan lain-lain.

Unsur penting dalam mengembangkan kemampuan sosial adalah melatih empati. Apa itu empati? Menurut Thomas F. Mades, dkk, penulis buku Understanding One Another, empati itu adalah kapasitas untuk baik atau berbagi sama orang, tapi dasarnya adalah rasa peduli.

Ini beda dengan simpati. Simpati lebih pada upaya seseorang untuk menyamakan pikiran dan perasaan dengan orang lain. Kalau orang sedih, kita mencoba untuk ikut sedih, dan seterusnya. Dalam simpati itu sering ada bias (distorsi). Di antaranya adalah perasaan kurang tulus.

Cara Praktis Melatih Empati
Untuk melatih empati, dasar pemahaman yang perlu kita perkenalkan adalah, semua orang itu memiliki kemampuan untuk memberi, berbagi, atau berbuat kebaikan kepada yang lain. Bentuknya bisa ucapan, sikap, perasaan, tindakan, sampai ke barang-barang. Jangan sampai si anak berpikir selalu barang atau materi.

Setelah memiliki pemahaman seperti itu, prakteknya bisa kita latih dari pengalaman nyata si anak sehari-hari. Misalnya saja meluruskan ucapan si anak pada saudaranya yang menurut kita itu kurang baik.

Selain meluruskan, perlu juga dorongan. Ini bisa kita latih dari mulai berempati soal mainan, stasiun televisi yang ditonton, berbagi makanan, dan sampai ke barang-barang yang menurut kita perlu disedekahkan ke anak tetangga atau saudara di kampung. Banyak anak yang semata ingin mengumpulkan barang-barang hanya untuk dimiliki, bukan untuk digunakan. Jika ini kita biarkan, bisa-bisa malah melatih sifat boros.

Intinya, empati itu adalah melatih anak agar tidak mudah mengeluarkan ucapan dan sikap yang menyakitkan atau merendahkan dan melatih anak agar tidak memiliki hati yang keras, tidak peduli atau anti-sosial. Apa yang dipraktekkan anak di dalam rumah akan ia jadikan referensi di luar rumah.

Meluruskan Distorsi
Meski memberi itu baik, tetapi akan tidak baik kalau sudah terjadi distorsi. Karena itu perlu kita luruskan dengan memberi penjelasan yang baik. Dari banyak kasus, yang perlu kita luruskan itu antara lain:

  1. Terlalu baik, memberi sesuatu yang menurut kita berlebihan. Terlalu baik itu bukan kebaikan, melainkan kelemahan.
  2. Memberi sesuatu karena ada tekanan atau ancaman anak lain. Jika ini kita biarkan, anak kita akan selalu menjadi korban dan mendukung anak lain untuk menjadi pelaku bullying.
  3. Memberi sesuatu yang sudah tidak memiliki nilai guna apa-apa.
  4. Mengungkit-ungkit pemberian atau meminta kembali. Meski ini sangat mungkin dilakukan si anak karena ketidaktahuan, tapi perlu kita luruskan.
  5. Meremehkan pemberian orang lain, misalnya tidak mengucapkan terima kasih atau malah memandang rendah.

Intinya, kita perlu melatih kapasitas anak untuk menjadi orang baik dan kuat. Jangan sampai dia menjadi orang baik karena kelemahannya. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait