Mengatasi Rasa Jera Pada Anak

Anak kita bisa saja menjadi jera untuk melakukan sebuah tindakan atau aktivitas yang secara jangka panjang sangat baik bagi dirinya. Misalnya jera latihan renang atau jera belajar sepeda karena pernah jatuh.

Rasa jera karena pernah punya pengalaman yang tidak diinginkan itu manusiawi alias normal. Hanya ketika itu kita biarkan, akibatnya menjadi tidak baik. Dia akan gagal menguasai keterampilan tertentu, padahal keterampilan itu dibutuhkan nantinya.

Di sisi lain, perlu kita sadari juga bahwa ketika anak jera belajar sepeda, sebetulnya yang menjadi masalah di dalam dirinya bukan pengalaman dia dengan sepeda itu saja, tetapi dia tidak punya pengalaman bagaimana mengatasi rasa jera dalam hidupnya. Sayang bukan?

Itulah sebagian alasan kenapa kita perlu membantu anak saat mengalami jera. Bantuan yang kita berikan bisa dalam bentuk, antara lain:

  • Memberi penjelasan yang benar dan logis, misalnya kenapa dia jatuh bersepeda, mungkin perlu harus pelan atau di jalan yang datar, perlu mengasah pengalaman.
  • Memberikan dorongan agar dia berlatih lagi. Untuk tahap awal, tidak masalah anak menolak, tetapi intinya dorongan itu tetap kita berikan dan kalau perlu memberi contoh langsung di depannya. Hindari menyalahkan anak. Sudah jera masih kita salahkan lagi, kasihan ‘kan? 
  • Memberikan pendampingan. Untuk anak yang baru mengalami pengalaman negatif, pendampingan sangat dibutuhkan lalu dilepas pelan-pelan sampai anak yakin bahwa dia OK.  
  • Menghargai kemajuan dengan memberi reward atas hasilnya. Berilah ungkapan yang membuat hatinya besar, namun dengan alasan / bukti  yang masuk akal.
  • Memberi kesempatan dia untuk berkembang dengan caranya sendiri, tidak usah kita komentari dulu. Membiarkan anak berkembang terkadang menjadi salah satu cara mendidik juga. 
  • Temukan contoh atau bukti dari anak lain, misalnya dengan melihat anak lain bermain atau terlibat dalam permainan dengan anak lain, misalnya kelompok bermain.

Jika anak sampai berhasil melakukan recovery dari rasa jeranya, dia telah menemukan pengalaman yang paling berharga. Ini bisa kita pakai untuk pengalaman lain, misalnya jera ke dapur sendirian, jera mendapat nilai 5 dan seterusnya.

Berbagai studi psikologi menyimpulkan bahwa pengalaman sukses itu menyumbangan rasa pede (kepercayaan-diri) yang paling besar.

Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait