Mengaudit Pola Asuh

Bagaimana kita memahamkan anak-anak yang berusia antara kelas nol besar sampai kelas tiga SD tentang aturan hidup yang berlaku di luar rumah? Sebut saja misalnya di sekolah atau di tempat umum. Di rumah, mereka tentu relatif memiliki kebiasaan yang lebih bebas dan memiliki peraturan sendiri.

Nah, bagaimana kalau kebiasaan itu terbawa ke luar? Darimana mulai membenahinya? Tentu kita tidak bisa secara optimal menjelaskan perbedaan yang terlalu abstrak antara hidup di rumah sendiri dan di rumah orang lain atau di tempat umum kepada anak-anak yang usianya belum sampai.

Jadi, darimana memulainya? Pertama, kita perlu menelaah kembali pola asuh yang selama ini kita terapkan. Apabila kita sudah merasa bahwa anak kita punya tingkat keaktifan dan kreativitas yang melebihi proporsinya dan membuat orang lain repot.

Dari sejumlah kasus yang umum terjadi, pola asuh yang kerap menciptakan problem pada prilaku anak adalah pola asuh yang ekstrim, entah ekstrim kerasnya atau ekstrim lunaknya. Dalam psikologi, yang ekstrim kerasnya ini biasa disebut dengan authoritarian (otoritarian). Orangtua ingin membentuk anak se-ideal yang ia inginkan dengan kontrol yang ketat. Sebagai reaksi atas situasi yang dihadapi, si anak akan mencari kebebasan di luar.

Sedangkan yang ekstrim lunaknya itu biasa disebut dengan permissive. Permisif ini apa-apa boleh, tidak mau melarang anak karena tidak mau ada percekcokan dan ketegangan. Posisi orangtua di sini sebagai pihak yang ”meng-iya-kan” apa saja yang dikonsultasikan anak. Anak yang di rumahnya mendapatkan pola asuh permisif secara dominan, akan menganggap semua tempat di luar rumahnya seperti di rumahnya sendiri. Pola asuh ini membangun persepsi bahwa hidup ini bebas-bebas aja.

Adakah jalan tengah? Dalam psikologi, jalan tengah dalam pola asuh itu disebutnya dengan authoritative (otoritatif). Orangtua tetap memberikan patokan, pedoman, dan arahan yang kuat dan tegas, namun tetap memberi ruang bagi anak-anak untuk kebebasan berkreasi, menumbuhkan kemandirian, dan rasa bertanggung jawab. Ini bisa dilakukan dari mulai yang paling terkecil, misalnya saja, latihan merapikan barang mainan yang sudah ia acak-acak. Di sini, kita tegas bahwa mainan yang sudah diacak-acak itu harus dirapikan lagi. Soal caranya dan tehniknya bagaimana, kita perlu memberikan kesempatan berkreasi.

Logikanya, jika anak sudah terbiasa memahami kebebasan dan batasan di rumah sendiri, dia akan cepat menemukan referensi atau bahan menilai keadaan ketika berada di luar rumah. Yang perlu kita sadari bahwa untuk menerapkan pola asuh yang otoritatif ini memang tidak sesimpel menerapan yang permisif atau yang otoritarian. Otoritatif membutuhkan berpikir kreatif, butuh kesabaran dan butuh kepedulian. Semoga bermanfaat.

AN. Ubaedy
Human Learning Specialist

Share artikel ini:

Artikel Terkait