Mengelola Rasa Jenuh

Rasa jenuh dimiliki semua orang. Karena rasa ini sudah menjadi sifat bawaan kita, maka ia bisa kita pahami sebagai signal atau alat petunjuk, tinggal kemudian bagaimana kita membacanya atau akan kita gunakan untuk apa.

Munculnya rasa jenuh dalam kadar yang membuat kita sudah harus memikirkannya, dapat kita pahami sebagai petanda adanya kebutuhan jiwa kita terhadap tantangan baru.

Misalnya target baru, sumber sensasi baru, cara baru, atau suasana baru, dan lain-lain. Katakanlah kita sudah mulai jenuh dengan rutinitas yang ada. Jika ini kita biarkan, sambil berharap kejenuhan itu pergi sendiri, mungkin tidak banyak untung yang kita dapatkan. Ini hanya siklus hidup biasa.

Tapi bila seandainya sikap kita responsif, misalnya memunculkan rencana baru untuk melakukan perubahan kreatif yang terukur sifatnya atau melakukan improvisasi, maka pastinya kejenuhan itu membawa keuntungan.

Untuk orang usia tertentu atau alasan tertentu, datangnya rasa jenuh juga bisa dibaca sebagai pertanyaan spiritual yang ingin mengarahkan kita menjadi orang yang lebih kuat, lebih cerah atau lebih bijak.

Misalnya kita jenuh dengan cara hidup yang sehari-harinya berkonsentrasi untuk mencari nafkah, mengalami kemacetan, memikirkan dunia dengan segala kerumitannya, dan itu-itu saja.

Selama respon kita positif, rasa jenuh demikian sangat spiritual, dalam arti mengantarkan kita memiliki vitalitas hidup yang lebih baru. Katakanlah membuat kita menjadi seimbang antara mengejar materi dan nilai, membuat kita lebih wise, membuat kita lebih peduli, dan seterusnya.   

Dengan respon yang positif, rasa jenuh itu dapat mempositifkan kita, mengarahkan kita menjadi berkembang ke atas  atau mendalam ke bawah. Hanya memang ketika rasa itu kita biarkan, ia akan sangat mungkin memunculkan apa yang disebut burn-out (hilangnya gairah kerja), jika kadarnya sudah menggunung.

Atau juga dapat mendatangkan masalah baru bila yang kita lakukan terhadap rasa jenuh itu adalah mencari pelarian ke luar, misalnya jenuh sedikit ganti kerja, mut-mutan, bongkar pasang rencana, dan lain-lain.  Semoga bermanfaat.

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait