Mengembalikan Gairah Belajar

Seusai menikmati liburan panjang, ada sebagian anak yang gairah belajarnya masih belum pulih seperti seharusnya. Haruskah itu kita biarkan begitu saja, menunggu perubahan terjadi sendiri?

Idealnya itu tidak bisa kita biarkan, meskipun perlu dipahami hal ini wajar. Kemalasan yang dibiarkan sangat berpotensi menjadi kemalasan bawaan atau kemalasan yang sudah  menjadi sifat. Ini tentu membahayakan.

Jika memang tidak bisa dibiarkan lalu apa yang bisa kita lakukan? Intinya, kita perlu menciptakan conditioning atau stimulating yang mendukung munculnya gairah belajar seperti seharunya.

Soal caranya seperti apa, ini bisa kita sesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan. Cara yang bisa kita pilih antara lain memberi peringatan dini. Mengingatkan atau menyadarkan adalah bagian dari pendidikan yang paling penting.

Akan semakin bagus kalau kita melibatkan anak dalam persiapan masuk sekolah. Misalnya mempersiapkan pembelian buku, mempersiapkan pakaian baru, dan lain-lain. Melibatkan dia akan membentu mengembalikan konsentrasinya.

Jika kita masih melihat konsentrasinya belum ok, tentunya hal ini perlu kita pahami. Berilah kesempatan untuk “malas-malasan”. Sejauh dia sudah terlibat dalam persiapan, itu berarti sedang berlangsung proses adaptasi.

Kalau kita punya pengalaman pribadi yang mirip atau sama dan kita berhasil mengatasi hal ini, maka ini sangat bagus untuk diceritakan. Story-telling adalah cara yang bagus juga untuk pendidikan.

Kita juga bisa bercerita pengalaman orang lain, misalnya pengalaman kakaknya atau om-nya, dan lain-lain. Dengan menceritakan pengalaman, maka anak akan belajar dari apa yang dilakukan orang lain.

Puncaknya adalah menegakkan disiplin seperti biasanya. Kita mulai mengajak dia untuk bangun pagi tepat waktu, mulai menegakkan kebiasaan untuk belajar malam, dan seterusnya.

Tentu saja cara terbaik menegakkan disiplin adalah dengan tegas dan bersahabat. Tegas dalam arti kita memang harus menegakkan disiplin itu, sedangkan bersahabat adalah caranya atau pendekatannya.

Untuk kondisi dan alasan tertentu, mungkin kita bisa saja menggunakan cara lain, misalnya memberi kesempatan pada anak untuk menyadari tanggung jawabnya sendiri. Misalnya, cukup mengingatkan lalu membiarkan (mengawasi dari jauh).

Terkadang, membiarkan itu juga bentuk lain dari pendidikan. Tentu saja cara ini tidak bisa kita terapkan untuk anak yang belum mengerti, apalagi motifnya karena kitanya yang malas.

Yang tidak kalah pentingnya adalah membantu dia mengatasi godaan. Matikan televisi, ajaklah jangan sampai tidur larut malam, dan seterusnya.  Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait