Mengenali Dan Menangani Tekanan Pada Anak

Tekanan pada anak akan sama seperti pada orang dewasa. Kesamaannya adalah: bisa menjadi peluang untuk lebih baik, lebih kuat atau lebih maju, tetapi juga bisa sebaliknya. Ini tergantung pada bagaimana mekanisme adaptasinya, apa yang akan dilakukan, dan juga tergantung bobot tekanannya.

Terkait dengan bobot itu, kita bisa berpatokan bahwa semakin moderat bobot tekanannya (tidak terlalu tinggi-rendah), berarti ada kemungkinan hal ini bagus bagi perkembangan jiwanya. Anak yang terlalu jarang menghadapi tekanan karena dimanja orangtua akan mungkin sama jeleknya dengan anak yang terlalu berat menahan tekanan.

Hanya, bedanya, orang dewasa sudah memiliki banyak pengalaman dan sumber solusi dalam menangani tekanan. Sementara, anak-anak tidak demikian. Karena itu, orangtua perlu sensitif dalam mengenali gejala tekanan pada anak, lalu berusaha menemukan penyiasatan kreatifnya. Beberapa gejala yang umum bisa dikenali pada anak itu antara lain:

„X Tidak mau makan atau selalu ingin makan, sakit perut, pusing, ngompol
„X Tidak semangat bersekolah, tidak berkonsentrasi belajar, stamina belajarnya menurun
„X Mengeluarkan reaksi emosi yang tidak biasanya: mudah marah, rewel, menangis karena ada tekanan, atau menyendiri

Sumber pemicunya pada anak sangat variatif, bisa dari tugas sekolah, pergaulan sesama mereka, pola asuh orangtua, atau kenyataan buruk (musibah / bencana). Ada banyak pengalaman yang membuktikan bahwa kesamaan nasib juga bisa membedakan tingkat tekanan yang dialami anak. Semakin berat tekanan tersebut akan dirasakan jika ia sendirian menghadapinya.

Beberapa langkah penting yang perlu diambil orangtua saat mengenali gejala tekanan pada anak, antara lain:

(1) Intensifkan dialog, biarkan dia bebas mengekspresikan perasaan
(2) Hindari menghakimi atau menghina ucapannya.   
(3) Beri penjelasan tentang kegunaan tekanan, positif dan negatifnya
(4) Munculkan kemandiriannya dalam menghadapi masalah sebagai latihan, misalnya bertanya tentang apa yang menurut dia pas untuk dilakukan
(5) Memilih langkah / ajakan  yang  tepat dalam menyikapi keadaan: adaptasi, merelakan, menghindarkan, atau memperbaiki

Kalau melihat anak kita tertekan gara-gara PR, sementara kita tidak mungkin mengubah kebijakan sekolah, ya caranya adalah menghindarkan dia dengan cara membantu. Jika sumber tekanannya karena kehilangan sahabat karib, kita bisa mengajak dia untuk merelakan dengan ikhlas. Jika sumber tekanannya karena dimarahi guru atas kesalahannya, kita mulai mengajak dia untuk memperbaiki. Jika karena disiplin sekolah atau pergaulan baru, kita bisa mulai mengajarkan beradaptasi.

Intinya, ada patokan umum yang bisa dijadikan pedoman untuk menangani tekanan, entah untuk anak-anak atau orang dewasa, yaitu: dengan membiarkan apa yang sudah tidak mungkin diubah, mengubah apa yang masih bisa diubah agar tercapai hasil lebih baik, yang paling penting hindari hal-hal yang mengakibatkan tekanan yang berlebihan pada anak.  

Share artikel ini:

Artikel Terkait