Mengenali Dehidrasi dan Penanggulangannya

Angka kematian bayi dan anak akibat diare masih tinggi di Indonesia. Terbanyak karena dehidrasi. Sebetulnya diare sendiri tidak perlu terjadi bila kebersihan perorangan, sanitasi, dan ketersediaan air minum diperhatikan.
Kalau diare terjadi juga, masyarakat harus kuasai penanggulangan dehidrasi.  Bagaimana mengenali dehidrasi, dan kiat mengatasinya kita bahas di sini.

MASALAH diare lebih ditentukan oleh faktor kebersihan perorangan, sanitasi, dan ketersediaaan air bersih. Selama ketiga faktor tersebut masih belum selesai ditanggulangi, angka diare sukar ditekan. Bukan saja kejadian diare sudah tidak perlu lagi ada, kematian yang diakibatkannya pun mestinya tak boleh sampai terjadi.

Untuk mencegah agar diare tidak sampai mengorbankan nyawa, masyarakat perlu diberi informasi lebih banyak ihwal penyakit ini dan cara penanggulangannya. Khususnya kegiatan penyuluhan ibu dapat dibuat agar ibu memahami pencegahan diare secara efektif, sekaligus penanggulangannya apabila diare terjadi juga.

Diare steril vs diare infeksi
Masyarakat kerap salah kaprah lantaran masih beranggapan bahwa setiap kali menghadapi kasus diare, obatnya hanya oralit. Setelah diberi oralit seakan penyakitnya bisa selesai. Sejatinya tidak demikian.

Diare lebih dari satu penyebabnya. Bisa karena salah makan yang biasanya disebabkan makanan minuman yang tidak bersih atau gangguan pencernaan yang bersifat gangguan fungsi belaka. Pada kasus-kasus demikian, tidak ditemukan bibit penyakit. Diare jenis ini kita sebut diare steril.

Gejala diare bisa ikut muncul pada mereka yang sedang mengalami gangguan lambung, tidak tahan pedas, atau tak cocok suatu obat. Demikian pula pada bayi. Infeksi atau radang saluran pernapasan bagian atas bisa disertai dengan diare. Diare tersebut sesungguhnya bukan suatu diare infeksi seperti pada kasus disentri atau kolera.

Selain diare steril, ada juga jenis diare yang disebabkan masuknya bibit penyakit ke saluran pencernaan. Diare ini disebut juga diare infeksi. Asalnya bisa dari air minum, dari makanan, atau tangan yang tidak bersih. Lebih dari sepuluh penyakit bisa dicegah kalau kebiasaan mencuci tangan dengan benar diajarkan pada masyarakat. Sebagian dari penyakit itu tergolong penyebab diare.

Apapun penyebabnya, seseorang digolongkan diare apabila buang air besarnya berubah bentuk menjadi lebih encer atau lembek. Selain itu buang air besarnya menjadi lebih kerap, hingga bisa lebih dari lima kali dalam sehari, dan tinjanya juga berbau busuk.

Dalam hal sifat tinjanya, perbedaan diare steril dengan diare yang disebabkan oleh bibit penyakit, selain berbau busuk, bisa disertai dengan lendir atau darah. Jenis diare ini banyak penyebabnya, mulai dari kolera, disentri, tifus, leptospirosis, dan keracunan makanan atau mengkonsumsi makanan basi.

Diare yang hanya disebabkan gangguan fungsi pencernaan tak perlu diberikan antibiotika, cukup oralit dan banyak diberikan minum saja. Tidak demikian bila diarenya tercemar bibit penyakit. Selain cacingan, bakteri, amuba, parasit, atau jamur pencernaan mungkin merupakan bibit penyakit ini. Tanpa membasmi bibit penyakitnya, diare tak akan berhenti. Maka pada kasus diare infeksi, oralit saja tidak cukup bila tanpa memberi antibiotika.

Anak lama tidak buang air kecil
Bayi dan anak lebih rentan terhadap kekurangan cairan. Maka kelompok umur ini lebih cepat memasuki keadaan dehidrasi dibanding orang dewasa. Seringkali bila tidak diamati dengan cermat, anak sudah telanjur dehidrasi.

Itu sebabnya begitu mulai diare segera berikan larutan oralit sebanyak yang anak bisa minum. Bila oralit tak tersedia, bisa dibuat sendiri dari air teh yang ditambahkan sesendok teh gula dan seujung sendok garam dapur.

Selama diare berlangsung, perhatikan apakah anak sudah lama tidak buang air kecil. Jika sudah cukup lama, itu tanda awal dehidrasi. Ginjalnya menahan lebih banyak air karena tubuh kehilangan cairan.

Selain lama tidak kencing, kulit anak teraba kering, tanpa peluh. Lakukan pencubitan pada kulit punggung tangan anak. Bila sehabis dicubit kulit lamban kembali ke keadaan kulit sediakala, pertanda anak sudah dehidrasi. Bila dehidrasi bertambah berat, tanda yang lain adalah kelopak mata anak cekung, bibir kering, dan anak tampak lemah.

Terlebih apabila diarenya hebat. Semakin sering diarenya, semakin cepat anak memasuki keadaan dehidrasi. Selama derajat dehidrasi masih stadium ringan, anak masih bisa ditolong dengan pemberian minum. Tidak demikian halnya bila diare sudah tergolong berat.

Syok yang dapat mematikan
Pada jenis diare yang berkepanjangan, banyak, dan sering, bila terlambat mengejar laju kekurangan cairan dengan memberi anak minum sebanyak anak bisa, maka keadaan bisa terjadi lain. Saat cairan yang anak minum kalah cepat dengan cairan yang terbuang lewat diare, anak akan tiba pada keadaan syok yang sudah terlambat ditolong karena tak terpulihkan (irreversible shock).

Sekali anak sudah memasuki syok akibat diarenya, sukar untuk mengangkatnya kembali. Pada kasus demikian, anak sudah tak tertolong lagi dan dapat berakhir dengan kematian. Apa pun penyebab diarenya, kalau sudah telanjur dehidrasi berat, kita sudah terlambat menolongnya.

Jadi pemberian oralit hanya untuk pertolongan pertama belaka. Jika dengan pemberian oralit saja diare belum kunjung berhenti, dan keadaan anak bertambah buruk, atau diarenya bersifat diare infeksi, jangan tunda membawa anak ke fasilitas medis terdekat. Sebaiknya ke puskesmas—kalau bukan ke rumah sakit—karena anak memerlukan cairan infus. Praktik dokter pribadi umumnya tidak menyediakan peralatan infus.

Diare pada kasus infeksi pencernaan hanyalah asap. Diare yang disebabkan oleh infeksi apa pun perlu memadamkan api penyebabnya, yakni bibit penyakit. Selama api penyebab diare masih menyala, asapnya masih tetap muncul. Maka lebih penting memadamkan api penyakitnya, yakni menumpas bibit penyakitnya agar diare yang mengancam nyawa terselesaikan.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait