Tips Menghadapi Anak yang Tertutup

"Dik...baru pulang dari study tour ya? ceritaain dong, disana ngapain aja?, bagaimana di perjalanan tadi?.." Beberapa contoh pertanyaan ini mungkin pernah ditujukan kepada anak-anak kita. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada anak yang menjawab dengan panjang lebar mengenai apa saja yang dilakukannya tapi ada juga anak yang menjawabnya singkat saja.

Pada anak-anak dengan kepribadian tertutup (introvert), pertanyaan-pertanyaan di atas, akan cenderung di jawab dengan sangat singkat, tidak berusaha menjelaskan panjang lebar bahkan kadang-kadang cenderung diam saja atau bersikap malu-malu.

Melihat kecenderungan prilaku anak yang tertutup (Introvert) seperti ini, sebaiknya orangtua perlu memahami tipe kepribadian anak dan menerimanya sebagai suatu yang normal bahwa setiap anak memang memiliki kekhasan sendiri-sendiri.

Anak dengan kepribadian Introvert, biasanya memiliki ciri-ciri, antara lain:

  • enggan mengungkapkan isi hati atau pendapatnya
  • cenderung pendiam
  • tidak banyak komentar
  • bicara seperlunya
  • kurang ekspresif
  • senang mengamati daripada bicara
  • senang bekerja sendiri ketimbang harus bekerja kelompok
  • kurang memiliki banyak teman, namun jika memiliki teman maka hubungannya akan sangat kuat.

Kepribadian Introvert ini, bisa disebabkan oleh faktor genetik yaitu diturunkan oleh sifat ayah/ibu yang Introvert, dan faktor lingkungan, misalnya saja lingkungan yang tidak memberikan rangsang kepada anak untuk membuka dirinya atau mengemukakan pendapatnya.

Menurut pendapat beberapa ahli, pribadi yang seimbang adalah pribadi dimana seseorang memiliki kecenderungan Ekstrovert dan Introvert. Sehingga dengan demikian, kebutuhan untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya serta kebutuhan akan privasi dan refleksi diri kedua-duanya terpuaskan.

Dalam menghadapi anak dengan kepribadian tertutup (Introvert), dibawah ini ada beberapa tips yang dapat digunakan agar anak menjadi pribadi yang seimbang:

  1. Berikan lingkungan yang dapat memberikan kesempatan bagi anak untuk bersikap terbuka dan bebas mengemukakan pendapat sehingga secara tidak langsung anak akan mendapat rangsangan untuk membuka dirinya. Perlu diingat bahwa seorang anak memiliki kepribadian yang masih dapat berubah, sehingga tidak tertutup kemungkinan baginya untuk dapat berkembang menjadi lebih optimal melalui peran orangtua dalam menciptakan lingkungan yang kondusif buat anak.
  2. Mengingat bakat dan minat anak yang masih bisa berubah dan umumnya masih terbatas/sederhana, maka lebih bijaksana untuk memberikan berbagai kesempatan pada anak untuk mengenali berbagai kegiatan yang tidak hanya cenderung Introvert seperti melukis, menulis, membaca,dsb, tapi juga kegiatan yang cenderung ekstrovert, seperti presenter, menyanyi, dsb,yang dapat memberi kesempatan pada anak untuk berlatih menjadi lebih ekspresif.
  3. Biasakan anak mengikuti aktivitas-aktivitas sosial, agar anak dapat belajar bersosialisasi/ bergaul. Meskipun anak memiliki kepribadian Introvert, tetapi karena dia dikondisikan untuk bergaul dia akan berkembang optimal tanpa kehilangan ciri kepribadiannya. Perlu diingat pula bahwa dalam pemberian aktivitas sosial ini, jangan paksa anak untuk langsung berhadapan dengan situasi sosial yang membutuhkan ketrampilan interaksi sosial yang tinggi, yang justru akan membuatnya stress. Berikan secara bertahap dimulai dari hobinya terlebih dahulu, kemudian secara bertahap libatkan orang lain dalam kegiatan hobinya tersebut.
  4. Berikan "model" Ekstrovert agar anak bisa menjadi lebih terbuka. Misalnya dengan berusaha mencarikan satu teman sebayanya yang memiliki pribadi yang suka berteman, ramah, spontan, suka bicara, humoris, baik hati untuk diajak bermain ke rumah atau diajak bepergian bersama-sama.
  5. Pahami Introvert sebagai sebuah tipe kepribadian yang normal, dimana terdapat di dalamnya segi positif dan negatifnya.Dengan pemahaman kita bahwa Introvert adalah suatu yang normal maka diharapkan akan makin besar peluang kita untuk membantu anak mengembangkan citra diri yang positif. Sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang sehat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait