Mengompol Pada Anak

Mengompol (bedwetting/nocturnal enuresis) yang dimaksud di sini adalah, keluarnya buang air kecil pada saat tidur malam. Untuk bayi dan anak kecil hal tersebut masih normal. Sebagian besar anak bisa mengontrolnya pada saat usia 4 tahun, sebagian kecil masih tetap mengompol sampai usia 5 tahun dan berhenti saat usia 7 tahun. Mengompol dikatakan abnormal jika anak di atas usia tersebut masih mengompol. Kebiasaan mengompol cenderung berulang dalam satu keluarga, seorang anak yang mengompol sebagian besar orang tuanya dahulu juga mengompol. Kebiasaan akan berhenti pada usia yang sama dengan usia orang tuanya dulu.

Yang menjadi masalah adalah bila anak yang masih mengompol sering mengalami tekanan, ejekan dan kemarahan dari orang tua, keluarga dan lingkungannya sehingga anak menjadi semakin stress dan tegang. Padahal anak dengan masalah ini sangat membutuhkan bantuan dan dukungan dari keluarganya.

Sebagian besar (80%) anak yang mengompol pada saat tidur malam hari, tidak mengompol di siang hari dan tidak menunjukkan gejala lain.

Mengompol bisa dibagi menjadi 2 tipe: primer dan sekunder.
Primer, jika seorang anak selalu mengompol sejak kecil.
Sekunder, jika anak pernah tidak mengompol selama minimal 6 bulan, setelah itu baru timbul keluhan.

Mengompol tipe primer menunjukkan belum matangnya susunan saraf, sehingga anak tidak bisa merasakan sensasi penuhnya kandung kencing pada saat tidur, sehingga anak tidak terbangun pada saat tidur malam.
Penyebabnya bisa salah satu atau kombinasi dari berbagai macam faktor yaitu:

  • Anak tidak bisa menahan kencing di malam hari
  • Anak tidak terbangun di malam hari karena kandung kencingnya penuh
  • Anak memproduksi urin dalam jumlah banyak di malam hari dan pada saat jam tidur
  • Anak tidak mempunyai kebiasaan ke belakang yang baik (toilet training)
  • Anak punya kebiasaan sering menahan kencing.

Mengompol tipe sekunder bisa disebabkan gangguan organ atau problem emosi. Gejala yang timbul bisa menunjukkan penyebab mengompol, baik psikis, gangguan di susunan saraf atau penyakit ginjal dan saluran kemih. Gejala-gejalanya bisa berupa:

  • Mengompol sepanjang hari
  • Sering kencing
  • Kencing tidak puas
  • Sakit saat berkemih
  • Tidak bisa menahan kencing
  • Kencing yang menetes-netes
  • Perubahan warna kencing
  • Sulit serta tidak bisa mengontrol buang air besar

Tips menghentikan kebiasaan mengompol

  • Kurangi jumlah minum anak pada malam hari, jangan minum apapun selama 2 jam sebelum tidur. 
  • Latih anak untuk berkemih sebelum tidur.
  • Latih anak untuk bangun tengah malam dan pergi ke kamar mandi untuk berkemih. Jika anak tidak dapat terbangun sendiri, orang tua harus bangun tengah malam dan membangunkannya
  • Buatkan jadwal, puji dan berikan hadiah jika anak berhasil melakukan tugasnya. Latihan ini memerlukan kesabaran orang tua dan kerjasama yang baik antara anak dengan orang tua.
  • Permudah akses anak dari kamar tidur ke kamar mandi, disertai penerangan yang cukup.
  • Beberapa ahli melarang pemakaian popok sekali pakai di rumah karena tidak membuat anak termotivasi untuk bangun dan berkemih. Sebagian lagi berpendapat bahwa pemakaian popok sekali pakai akan membuat anak merasa percaya diri dan nyaman. Hal ini harus disesuaikan dengan kondisi anak.

Ngompol bukan tabu, mungkin anak tengah mengalami suatu masalah yang tidak ia inginkan, bantu dia mengatasi masalah tersebut.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)

Share artikel ini:

Artikel Terkait