Menjadi Badan Sensor Untuk Anak Sendiri

Era digital dan global telah menyediakan berbagai fasilitas yang mudah dan murah. Inilah yang harus kita terima sebagai fakta dan realita. Tidak mungkin rasanya kita menolak dan mengelak.

Apapun yang ingin diketahui oleh anak-anak kita, semua itu cukup dengan menekan tombol gadget atau remote yang ada di tangannya.  Satu sisi, ini memang berkah yang luar biasa. Anak-anak punya sumber informasi, pengetahuan, dan hiburan yang berlimbah.

Tapi, di sisi lain, ini juga kerap menjadi sumber musibah. Jangankan buat anak-anak yang belum matang, bagi orang dewasa pun seringkali menjadi sumber bahaya. Menurut riset, bangsa Indonesia ini menempati 10 besar pengunjung situs porno di dunia sejak tahun 2005, padahal pengguna internet di kita tidak masuk 10 besar itu (kompas.com). 

Jika orang dewasa saja begitu, bagaimana dengan anak-anak? Hampir bisa dipastikan bahwa bila anak-anak tidak mendapat pengarahan, pengawasan, dan kontrol, maka berlimbahnya tayangan saat ini justru akan lebih banyak membawa dampak negatif.

Karena itu, salah satu solusi yang perlu ditempuh orangtua adalah berupaya sekuat mungkin untuk menajdi ‘badan sensor’ terhadap tayangan, bacaan, maupun gadget yang digunakan anak.

Secara umum, yang perlu disensor adalah segala hal yang menjurus pada kekerasan,  pornografi, kejahatan atau pengerusakan, baik pada diri sendiri atau orang lain.

 

Nah, prosesnya tentu tidak selalu diawali dan diakhiri dengan melarang atau memarahi secara reaktif. Ini seringkali tidak bekerja secara optimal. Justru yang diperlukan adalah menjalankan langkah utuh yang ujungnya adalah melahirkan karakter kuat terhadap godaan. Caranya? Caranya bisa menempuh beberapa tindakan di bawah ini:

 

1.      Memberi penjelasan dan pemahaman.

 

Saat melihat anak sudah mulai akrab dengan tayangan, bacaan, atau games, kita perlu menjelaskan mana yang boleh, mana yang belum, atau mana yang tidak boleh sama sekali. Tentunya dengan alasan

 

2.      Kontrol dan pengarahan .

 

Anak-anak tidak cukup dengan dikasih pemahaman. Perlu ada kontrol langsung meski tidak selalu. Di sisi lain, kalau dikontrol terus, ini juga tidak bagus. Karena itu, perlu diarahkan.

 

3.      Menyepakati sejumlah perilaku

 

Misalnya menyepakati jam, berapa lama, atau tempat. Semakin nyaman dan semakin terjaga privacy-nya, ada kemungkinan semakin dekat dia dengan sumber bahaya. Karena itu, sepakatilah aturan main.

 

4.      Menghidupkan self-leadership

 

Tidak ada orangtua yang sanggup melindungi anaknya sepanjang waktu. Karena itu, yang terpenting adalah bagaimana anak belajar untuk menjaga dirinya (leader). Caranya adalah sering mengajak dialog untuk mengetahui sikapnya, rasionalisasinya atau mentalnya terhadap tayangan negatif atau dengan mengajarkan nilai-nilai sebagai benteng diri.

 

5.      Belajar terus menerus

 

Orangtua perlu memperkaya diri dengan berbagai pengetahuan, termasuk apa yang layak bagi anak, dan apa yang belum layak dikonsumsi anak. Untuk itu, orangtua perlu memahami film mana yang layak ditonton oleh anak, dan mematuhinya. Jangan mengajak anak menonton film di bioskop maupun di rumah yang belum sesuai dengan usianya. Perhatikan pula buku-buku bacaan anak. Jika perlu, Anda sebagai orangtua membaca terlebih dahulu untuk memastikan buku tadi layak bagi anak. Hal yang sama berlaku untuk games dan gadget. Lengkapi juga komputer, laptop, dan gadget yang sering digunakan anak dengan software atau aplikasi child proof.

 

Semua tindakan di atas akan berjalan lebih bagus kalau kita juga menjadi orangtua yang ikut perkembangan (up to date), sehingga kita tetap berposisi sebagai orangtua yang memberdayakan, bukan yang memperdaya.

 

Semoga bermanfaat. 

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait