Menjadi Sahabat Bagi Remaja

Bu Amri mulai merasakan ada perbedaan pada perilaku putri semata wayangnya yang kini duduk di bangku kelas enam Sekolah Dasar. Selain mulai sering membantah dan menunjukkan ketidaktaatan, putrinya juga mulai agak sedikit tertutup, tidak seperti dulu. Sehabis pulang sekolah, waktunya lebih banyak digunakan untuk nonton sambil main handphone. Ia mulai asyik curhat mengenai segala hal dengan temannya. Untuk sekedar menjawab pertanyaan dari bibinya di rumah pun terkadang ogah-ogahan.

Itulah sedikit gambaran mengenai perubahan perilaku pada remaja awal dengan konteks kehidupan masyarakat kota. Nanti, ketika usianya memasuki remaja pertengahan (13-16) dan remaja akhir (17-19), perubahan demi perubahan akan terus bermunculan dan berbeda-beda.

Mengingat panjanganya rentetan perubahan pada remaja, maka masa ini sering  disebut masa yang harus diwaspadai. Kenapa?

Menurut teori Erikson, pakar psikologi perkembangan asal Jerman, menyebutnya dengan istilah identity versus confusion. Di satu sisi, ia ingin menunjukkan siapa dirinya (identity), tapi di sisi lain, ia juga masih bingung (confusion).

 

Apa yang perlu dilakukan orangtua? Idealnya, orangtua juga perlu melakukan perubahan ketika melihat ada perubahan pada putra-putri remajanya. Beberapa perubahan yang penting antara lain:

 

1.      Strategi.

 

Jika selama ini selalu kita bertindak sebagai orangtua yang berkuasa, menyuruh, melarang, menceramahi, dan seterusnya, kini saatnya kita berubah. Terkadang kita perlu menjadi teman atau sahabatnya yang mendengarkan, membantu, dan menanyakan bagaimana pendapat dan sikapnya.

 

2.      Bertukar pikiran, pengetahuan, dan pengalaman.

 

Jika selama ini kita selalu memvonis dan menyalahkan, saatnya kita bertukar pikiran, bertukar pengetahuan atau pengalaman sebagai cara untuk memperbaiki kesalahannya.

 

3.      Tingkatkan tanggung jawab.

 

Membiarkan remaja menjalani hidup sesuka-sukanya juga tidak bagus bagi dirinya. Perlu ada kesepakatan tentang disiplin dan tanggung jawab, misalnya jam mandi, jam belajar, tanggung jawab kebersihan rumah, dan lain-lain. Seperti kata orang bijak, untuk membuat anak Anda terbang, berilah cita-cita, tapi agar dia tetap menginjak bumi, berilah tanggung jawab dan disiplin.  

 

4.      Ikuti perkembangannya dan teman-temannya.

 

Ini juga cara yang harus kita lakukan agar kita tetap dekat dan terkoneksi. Kita perlu akrab dengan temannya juga. Terkadang kita persilahkan mengundang temannya atau dia diundang temannya.

 

5.      Menjaga jarak yang sehat

 

Membangun kedekatan yang sedemikian lengket dengan remaja hingga membuatnya menjadi ‘anak-mama’, dan hal ini juga tidak bagus, meski kalau hubungannya jauh juga tidak baik. Karena itu, perlu menjaga jarak yang sehat. Meski harus dekat, namun harus ada pendidikannya.

 

Apakah tidak berlaku lagi memarahi dan menceramai? Untuk alasan dan kebutuhan yang tepat, inipun perlu kita lakukan, asal tidak berlebihan dan tetap terkontrol. Hukuman harus tetap berupa konsekuensi logis. Meski demikian, kita juga perlu memahami secara positif jika remaja melakukan hal-hal yang kita larang selama tidak kebablasan dan tetap kita arahkan. ‘Kan tidak manusiawi juga jika remaja tumbuh seperti malaikat yang tak pernah salah dan selalu taat? Pada usia ini, seperti yang diungkapkan diatas, anak berada pada fase pencarian jati diri. Orangtua lah yang perlu selalu mendampingi agar fase ini membawa efek yang positif bagi masa depan anak.

 

Ubaedy, AN – Your Softskill Learning Partner

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait