Menjaga Nutrisi Anak Tetap Terpenuhi Selama Liburan

Tentu tidak selalu sama komposisi nutrisi maupun jadwal makan anak selama hari-hari liburan. Berubah dan beragamnya jenis kegiatan anak selama liburan, menjadikan porsi makan dan jenis menu harian yang anak konsumsi tak bisa persis sama seperti pada hari-hari sekolah. Bisa berlebihan, atau lebih besar kemungkinan kekurangan, dan serba tidak lengkap. Maklum waktu bermain sering membuat anak lupa jadwal makannya.

Harus diakui kalau pada hari sekolah pun menu harian dan jadwal makan anak belum tentu selalu memadai. Sering cenderung kekurangan. Kendati cukup porsinya, belum tentu memadai kelengkapan seluruh zat gizinya. Apalagi kalau liburan.

Pertahankan jadwal makan
Paling tidak, jadwal makan harian harus senantiasa dipatuhi. Bagian dari peran ibu untuk tetap membiasakan anak berdisiplin dalam hal jam makan. Tak ada alasan apa pun yang boleh mengalahkan jam makan anak. Pada waktu jam makan anak harus sudah berada di meja makan ibu.

Pentingnya membangun kebiasaan makan bersama seyogianya sudah dibiasakan sejak anak mulai memperoleh menu orang dewasa. Budaya makan bersama di meja makan ibu, bagian dari komunikasi dalam keluarga. Bukan saja mendekatkan hubungan anak dengan seluruh anggota keluarga, di meja makan sekaligus ibu dapat mengawasi kecukupan nutrisi anak.

Di meja makan ibu, gizi anak ditentukan. Di depan mata ibu, anak terjamin kecukupan makan, dan terpenuhi pula kelengkapan seluruh zat gizi tubuhnya. Ibu menuangkan nasi dan lauk pauknya ke pring makan anak, dan anak menghabiskannya.

Makan bersama ibu mengajarkan anak, bahkan lebih dari itu, mendidik anak bagaimana memilih menu yang menyehatkan. Di sana anak juga belajar bagaimana santun di meja makan. Cara duduk, cara menyuap dan mengunyah, serta menyelesaikan isi piring makannya, ibu yang mengajarkannya.

Namun bukan kejadian jarang kalau selama liburan anak cenderung lupa waktu makannya. Konsentrasi pada permainan membuatnya makan ala kadarnya, sering-sering tidak habis piring nasinya, dan acap kali dilakukan dengan tergesa-gesa. Maka kelebihan lain makan bersama di meja makan ibu, agar anak cukup makannya sesuai dengan porsi hariannya. Ibu juga bisa mengawasi langsung anak makan sampai selesai. Maka sebaiknya tidak membiarkan anak makan sambil bermain, atau nonton televisi.

Termasuk selama liburan di luar rumah. Jam makan diusahakan tepat sebagaiamana biasanya. Maka perlu menyusun program sebelum menentukan lokasi bepergian atau tujuan wisatanya. Di mana makan siang, dan makan malam akan dipilih kalau perjalanan menempuh waktu lama. Semua sudah disiapkan. Jika tak memungkinkan makan di lokasi tertentu mengingat tidak tepat tempatnya, maka perlu disiapkan membawa bekal untuk disantap dalam kendaraan, lengkap dengan bekal buah.

Perlu memilih kalau menunya di luar rumah
Tentu saja selalu ada bedanya menu meja makan ibu dengan menu di luar rumah. Menu restoran umumnya lebih memikat lidah anak karena cita rasa gurih. Namun perlu diingat bahwa kebanyakan menu restoran serba gurih berarti tinggi lemak ,dan sebagaimana rata-rata menu cepat saji,rata-rata sudah kehilangan sebagian besar zat gizinya. Harus diakui kalau itu tidak sebagus gizi di meja makan ibu.

Padahal sejak kecil, lidah anak sebetulnya bisa dibentuk selera tradisionalnya di meja makan ibu. Kebanyakan anak yang terbiasa makan di meja makan ibu lebih menyukai menu tradisional dibanding anak yang lebih sering makan di luar rumah. Satu lagi manfaat dipetik kalau membiasakan anak terbiasa makan di meja makan rumah sejak kecil mula.

Maka agar terjamin kecukupan dan kelengkapan gizi menunya, ketika jam makan sedang berada di luar rumah, ibu perlu bijak memilihkan menu yang sebagus menu meja makan rumah. Seberapa bisa tidak memilih menu cepat saji dan segala yang serba junk food itu. Selain jenis menu semacam itu dapat merusak lidah anak, nilai gizinya juga tidak sebagus gizi menu rumah.

Lupa minum
Jangan abaikan kecukupan minum anak. Ingat kalau tubuh usia anak sebagian besar lebih banyak cairan. Kebutuhan cairan tubuh usia anak relatif lebih besar dibanding orang dewasa. Selama masa liburan, karena perhatian anak umumnya lebih terkonsentrasi pada bermain dan permainannya, bukan jarang melupakan minumnya. Bahkan sehabis makan pun sering-sering langsung kembali bermain, dan tidak minum.

Padahal dengan lebih banyak bermain dan menempuh perjalanan wisata, kebutuhan minum lebih besar karena penguapan tubuh meningkat, dan peluh juga lebih deras dari biasa.

Kekurangan minum jelas tidak menyehatkan. Maka tugas ibu untuk terus mengawasi kecukupan minum anak. Cara paling praktis untuk selalu mencukupi minum anak dengan cara memberi jatah minum harian dalam sebuah wadah botol. Kalau kebutuhan minumnya dua liter sehari, setiap anak diberi jatah dua liter dalam satu wadah. Bila sampai malam hari dalam wadah minumnya masih tersisa airnya, berarti minum hari itu belum cukup. Kecukuan air minum juga bagian dari kecukupan gizi.

Share artikel ini:

Artikel Terkait