Menyelamai Dunia Anak

Menjadi Orangtua Yang Baik
Menjadi orang tua yang baik itu sama seperti menjadi guru yang baik, yaitu guru yang mampu mengantarkan anak didiknya menjadi orang baik.

Untuk menjadi guru yang baik, dibutuhkan ilmu atau fasilitas yang baik, tetapi ini bukan penentu. Yang menentukan adalah orientasi kepentingannya kepada orang lain.

Begitu pun dengan menjadi orang tua yang baik. Orang tua yang baik adalah orang tua yang mampu mendedikasikan dirinya untuk memenuhi kebutuhan perkembangan anak. Secara umum, kebutuhan ini mencakup fisik, emosi, intelektual, spiritual, dan mental. Setiap anak berkembang secara optimal menjadi dirinya atas bimbingan orang tua. Oleh karenanya, semua orang tua di dunia ini, apapun status ekonomi dan sosialnya, memiliki peluang yang sama untuk menjadi orang tua yang baik atau sebaliknya. Kuncinya bukanlah apa yang dimiliki orang tua, melainkan tujuan dan kepentingannya.

Kebaikan Anak atau Kepentingan Orang Tua?
Anda ingin menerapkan disiplin pada anak? Boleh-boleh saja, tapi kadang kita perlu mengkaji kembali disiplin yang kita terapkan pada anak, seperti larangan. Apakah tujuannya untuk kebutuhan dan kebaikan si anak, atau untuk kepentingan kita sendiri yang seringkali tidak kita sadari. Karena otak orang dewasa umumnya sudah dipenuhi persepsi dan kepentingan yang bersifat subyektif. Sementara, jiwa anak masih belum terkotak-kotak seperti itu.

Idealnya, larangan dan dorongan itu perlu kita arahkan untuk kebaikan anak atau sesuai dengan kebutuhan perkembangannya, bukan untuk memenuhi kepentingan pribadi kita. Lebih-lebih jika sampai ada upaya tersembunyi menunggangi anak dengan kepentingan tertentu.

Kebutuhan dan Nilai
Untuk mengetahui apakah suatu tindakan yang kita lakukan untuk anak tujuannya demi kebaikan anak atau bukan, kita perlu memiliki pengetahuan tentang apa saja yang dibutuhkan anak dalam perkembangannya sesuai usianya. Tidak sedikit orang tua yang berdalih ingin mencerdaskan anak dengan memasukkannya ke berbagai kursus. Padahal kita tahu anak masih membutuhkan lebih banyak waktu bermain, yang sesuai dengan tahapan perkembangan motorik anak.

Selain itu juga, yang perlu kita utamakan dalam menerapkan disiplin adalah nilai-nilai yang kebaikan dan kebenarannya sudah tidak diperdebatkan lagi. Ini berarti kita perlu menghindari ”aku” sebagai orang tua dalam membuat keputusan menyangkut anak.

Sebaiknya kita lebih memusatkan perhatian pada perbuatan baik atau jelek menurut ajaran tertentu yang kita anut dalam keluarga. Jika yang kita munculkan itu adalah nilai, berarti kita telah menanam benih yang PASTI akan tumbuh. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait