Menyikapi Pubertas Anak

Pubertas adalah masa dimana anak mengalami proses perubahan psikologis  dan biologis (kematangan alat reproduksi). Karena itu sering disebut juga ”Masa Antara” dari anak-anak ke remaja. Untuk perempuan, pubertas normal terjadi pada usia antara 8-14 tahun, yang ditandai menstruasi. Sedangkan untuk laki-laki, pubertas normal terjadi antara 10-15 tahun yang ditandai mimpi basah.

Sebagian besar anak mengalami kebingungan menghadapi pubertas. Sumbernya bukan semata karena melihat perkembangan fisiknya, pertumbuhan bagian tertentu pada tubuhnya atau merasakan kondisi tertentu pada tubuhnya, misalnya bau badan, dll. Mereka juga mulai membingungkan munculnya perasaan dan pemikiran tertentu yang muncul dari dalam dirinya, misalnya cepat marah, bertanya siapa dirinya, atau munculnya keinginan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis secara lebih beda.

Karena ini merupakan peristiwa penting dalam hidup anak, maka leluhur kita menyambutnya dengan mengadakan selamatan atau yang lain. Intinya, selamatan itu adalah doa kepada Tuhan dan penegasan kesadaran pada anak bahwa di dalam dirinya sudah muncul tanda-tanda kekuasaan Tuhan tertentu yang harus disikapi dengan memunculkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Dorongan perubahan ini penting karena fisik dan bentuk tubuh anak akan tumbuh secara otomatis dan alamiah. Tapi, kemajuan kapasitas kognitif (cara menangangi  masalah, cara berpikir, rasa tanggungjawab, dll), kapasitas  sosial (cara bereaksi, cara bergaul, dll), dan kapasitas moralnya (kematangan menjaga diri, pengetahuan baik-buruk, dst) tak bisa berkembang secara alami. Untuk bisa berkembang, semua kapasitas itu harus dikembangkan oleh dirinya atas bantuan orangtua, sekolah, dll.
 
Intinya, memasuki masa pubertas itu, orangtua perlu lebih konsentrasi mengimbangi pertumbuhan fisik dengan kemajuan kapasitas kognitif, emosi-sosial, dan moral. Agar kemajuannya bisa dilihat, tentu membutuhkan catatan track-record-nya dari waktu ke waktu. Kita bisa mengatakan kepada anak, misalnya begini: ”Kalau dulu ngambek dengan alasan sepele, sekarang ini ngambeknya harus disertai alasan yang kuat atau tidak berlebihan”, katakanlah begitu.

Hal lain yang juga penting adalah mulai melakukan perubahan pada bagaimana kita memperlakukan mereka. Kalau dulu kita memperlakukannya sebagai anak-anak murni yang masih kita ”suapi”, maka sekarang ini sudah mulai kita beri banyak pilihan untuk memberikan ruang inisiatif dan kemandirian sekaligus untuk menguji sejauh mana pemahamannya mengenai moral dengan memberikan peran yang lebih di rumah.

Ini penting untuk menghadapi masa remaja dimana karakter psikisnya akan menunjukkan dorongan untuk mencari identitas siapa dirinya, namun di sisi lain dia juga bingung apa kelebihannya atau apa peranannya. Jika kita perlakukan anak-anak terus, mungkin dia akan butuh waktu lama untuk menemukan dirinya. Yang perlu dihindari adalah memberikan terlalu banyak kebebasan pada anak.

Intinya, masa pubertas perlu kita manfaatkan seoptimal mungkin sebagai, momen penting yang bisa dijadikan sebagai kesadaran untuk berubah. Tuhan akan terus memberikan momen itu sepanjang hidup, tergantung bagaimana kita memaknainya. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait