Merangsang Kemampuan Bicara Bayi

Bicara adalah salah satu alat komunikasi yang sangat efektif untuk membuat lingkungan mengerti apa yang kita butuhkan. Bahkan seorang bayi pun akan dapat merasakan bahwa dengan bicara, ia akan lebih mudah membuat orang lain mengerti maksud atau keinginannya, dibandingkan bila ia hanya bisa menggunakan bahasa tangis atau gerak tubuhnya. Misalnya saja, ketika seorang bayi merasa haus, maka ia akan lebih cepat mendapatkan minum apabila ia berbicara meminta minum ketimbang bila ia menangis yang bisa diartikan bermacam-macam atau membuat orang lain bingung.

Melihat pentingnya kemampuan bicara, maka sebagai orangtua atau orang yang bertanggung jawab terhadap anak, sudah selayaknyalah kita mengusahakan cara-cara yang dapat membuat bayi kita memiliki kemampuan bicara kelak.

Agar bayi dapat memiliki kemampuan bicara, maka selain diperlukan kematangan otot-otot bicaranya, diperlukan juga stimulasi atau perangsangan terhadap kemampuan bicaranya. Pemberian stimulasi bicara pada bayi, dapat dilakukan oleh orangtua, pengasuh, keluarga, ataupun orang lain yang ada di lingkungan dimana bayi berada.

Sebagai pedoman untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kemampuan bicara bayi, hendaknya orang yang memberikan stimulasi bicara pada bayi, benar-benar dapat memanfaatkan sebaik mungkin masa-masa dimana bayi benar-benar peka atau paling cepat menyerap pengajaran bicara yang diberikan kepadanya (teachable moment). Berdasarkan penelitian, masa dimana seorang anak peka terhadap pengajaran bicara adalah usia 18 bulan, karena pada usia inilah, kematangan otot-otot bicara sudah terbentuk dan secara mental, anak siap untuk mendapat pengajaran. Namun demikian, bukan berarti pada periode sebelumnya, tidak diperlukan latihan atau rangsang bicara. Latihan tetap diperlukan untuk menimbulkan efek positif dari kebiasaan mendengar. Seperti mendapat contoh bagaimana berbicara yang benar, bagaimana membuat kalimat, memperkaya kosa kata, dsb.

Selain itu, untuk dapat mengoptimalkan perkembangan kemampuan bicara bayi, hendaknya dalam pemberian stimulasi bicara, tidak hanya menggunakan bahasa yang benar atau intonasi suara yang tepat saja, tapi gunakan juga gerakan tubuh dan ekspresi wajah. Hal ini dimaksudkan agar isi pembicaraan dapat mudah dipahami oleh anak. Misalnya pada saat melarang si kecil membuang mainannya, selain berkata “jangan ya dik..”, kita juga bisa memperkuatnya dengan menggelengkan kepala atau mengisyaratkan tangan.

Dalam usaha menstimulasi kemampuan bicara bayi, Berikut ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua atau orang-orang yang terlibat dalam pemberian stimulasi bicara pada bayi:

  1. Membiasakan bayi mendengar suara. Misalnya melalui kegiatan mendongeng, mendengarkan lagu lagu yang kita nyanyikan sendiri atau dari kaset, memperdengarkan pembicaraan orang di radio atau televisi, dsb. Hal ini dimaksudkan agar bayi terbiasa mendengar banyak kosa kata bahasa ibu, sehingga lambat laun ia dapat belajar menirukannya atau mengucapkannya.
  2. Beri dukungan atau respon yang positif kepada bayi setiap kali bayi berusaha untuk bicara atau berespon terhadap rangsang bicara kita kepadanya . Misalnya dengan memberikan pujian, ciuman, senyuman, pelukan,dsb,sehingga bayi merasa senang dan cenderung mengulanginya. Namun sebaliknya, bila bayi hanya menggunakan bahasa isyarat saja, jangan cepat-cepat berespon menuruti apa yang diinginkannya. Ajarkan dan contohkan bagaimana yang seharusnya diucapkan oleh bayi.
  3. Sering-sering mengajak bayi bicara pada saat berinteraksi dengan bayi . Misalnya ketika kita mau memandikan bayi, katakan dan tunjukkan pada bayi benda-benda yang akan dipakai untuk keperluan mandi serta kegunaannya, seperti air hangat, handuk, sabun, sampo, dst. Pada awalnya memang bayi masih belum mengerti apa yang kita ucapkan, tetapi lambat laun,bayi akan terbiasa belajar hal-hal penting, seperti mengenai bagaimana membentuk kalimat, konsep urutan kejadian, konsep sebab akibat, kosa kata, dsb.yang semuanya ini sangat berguna dalam mengembangkan kemampuan berbahasa dan kemampuan berfikirnya kelak.
  4. Ajak bayi jalan-jalan di lingkungan sekitar rumah. Misalnya ke taman atau sesekali berkunjung ke rumah tetangga atau saudara, agar bayi dapat belajar dan terbiasa mendengar bagaimana orang lain bercakap-cakap.
  5. Berikan contoh berbahasa yang benar. Apabila bayi masih belum mampu mengucapkan kata-kata dengan benar, maka orangtua seharusnya memperbaikinya dan tidak malah ikut-ikutan atau sengaja berbicara salah karena menganggap hal itu sesuatu yang lucu. Misalnya ketika bayi bilang "cucu" maka orangtua seharusnya memperbaikinya dengan mengatakan “oh adik mau minum susu ya”. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa belajar mengenai apa yang seharusnya diucapkan.
  6. Periksakan ke dokter atau ahli bila ada hal-hal yang janggal pada bayi, seperti bayi tidak berespon setiap kali kita berbicara, bayi belum mampu berbicara pada saat usianya 2 tahun atau bayi tenang saja pada saat diperdengarkan suara yang mengagetkannya. Karena hal ini mungkin terjadi akibat adanya masalah dalam organ pendengaran bayi yang membutuhkan bentuk dan cara stimulasi yang lebih khusus dan intensif.

Share artikel ini:

Artikel Terkait