Money Can't Buy Every Thing!

Mengerjakan PR= uang jajan tambah Rp 5000

Merapikan tempat tidur= Rp 10.000

Menjaga adik= Mainan baru

Apakah Anda menerima daftar pekerjaan anak disertai daftar harga layaknya menu restoran? Jika ya, jangan menganggap nilai uang atau materi lebih penting dibandingkan nilai ketulusan dan manfat dari sebuah proses. Jika terus dibiarkan, anak akan memupuk sifat materialistis sedari kecil.

Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Dr Tjut Rifameutia MA, mendefinisikan materialistis adalah suatu sifat yang mengedepankan nilai materi sudah terpenuhi atau berlebihan. Anak yang memilki sikap dan sifat matre ini bisanya terlihat konsumtif, selalu ingin memiliki barang-barang muktahir, padahal tidak terlalu membutuhkannya. Anak cenderung ingin memiliki uang jajan berlebih, berteman dengan teman-teman yang berasal dari kelompok yang berada. Anak juga melakukan sesuatu dengan memperhitungkan untung ruginya dari segi materi seperti meminta reward atau dengan syarat-syarat.

Rifameutia mengatakan, hal ini terjadi karena anak belajar dari pengalaman dunia di sekitarnya. “Anak diperkenalkan dengan konsep materi yang salah sehingga terbentuk pola kebiasaan tersebut pada anak” jelasnya. Seperti, anak biasa melihat kekaguman orang-orang pada mereka yang bergaya trendi dan memiliki barang-barang baru, bisa jadi juga mengedepankan nilai-nilai ekonomi dan materi. “Sehingga anak merasa bahwa hidup itu untuk memperoleh nilai ekonomi yang tinggi dan memiliki berbagai materi sambung Rifameutia.

Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Januarani Razak Msi, mengatakan sebenarnya anak belum paham betul arti dari materialistis. Konsep materialistis ini berasal dari orangtua, yaitu bagaimana orangtua mempersepsikan materi. Dalam mengadopsi sebuah konsep umumnya anak-anak ada yang mampu mendefinisikan sendiri hal-hal yang ada di lingkungannya, sehingga bisa membedakan mana yang baik dan benar tapi, ada juga anak yang menjiplak hal-hal yang dilihatnya. “Alhasil pandangan orangtua dalam menilai materi yang tercermin dalam polah tingkah bisa tertular pada anak” katanya.

Januarani memaparkan, jika sifat ini terus dibiarkan tumbuh pada anak, alhasil materi akan menjadi tujuan hidupnya kelak. “Hal ini tentu berbahaya, karena anak berpotensi menjadi seseorang yang bisa mendewakan materi dan melakukan tindakan apapun untuk mewujudkannya salah satunya korupsi” ujarnya. Oleh sebab itu, tanamkan konsep materi yang benar. Materi bukanlah tujuan melainkan sarana dan penunjang. Ajarkan materi sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup dan beramal pada orang lain. Semakin banyak orang yang bisa dibantunya.”Paling penting berikan pemahaman, materi bukanlah hal yang kekal dan bisa kapan saja diambil oleh yang Maha Kuasa” kata Januarani.

Materialitis vs Selara Tinggi
Psikolog pendidikan dari Universitas Indonesia, Wahyu Indiati Msi, mengingatkan jangan sampai orangtua salah menilai, anak yang menyukai barang bernilai tinggi belum tentu meterialistis. Bisa jadi si anak memiliki selera yang tinggi dalam menilai sesuatu. “Persepsi ini dibentuk dari nilai-niliai yang ditanamkan orangtua saat beropini menilai suatu barang” kataya.

Untuk itu, orangtua perlu memperkenalkan beragam pilihan barang atau lingkungan. Misalnya, anak tidak hanya diajak ke mal saja, tapi juga ke panti asuhan. Atau anak tak hanya dibelikan barang bermerek saja, tapi juga barang yang harganya lebih murah namun kualitasnya tak kalah. “Kedekatan (bonding) antara anak orang tua juga mempengaruhi sampai atau tidaknya pesan yang disampaikan orangtua” katanya.

Indiati melanjutkan, anak dikatakan materialistis ketika sudah sampai batas tidak pernah merasa puas dalam memenuhi kebutuhan dirinya terhadap materi. Biasanya ini terlihat anak sering sekali menuntut untuk dipenuhi keinginannya. Misalnya, anak menuntut dibelikan mainan kemudian meminta mainan jenis yang lain dalam waktu yang singkat. Sehingga tak urung anak matre dikategorikan manja yang tidak memahami arti keterbatasan, padahal dalam kehidupan nyata tidak semua keinginan tercapai.

Indiati mengatakan, orangtua perlu hati-hati memberikan materi khusus uang sebagai bentuk penghargaan (reward). Karena materi bersifat imun, artinya nilainya akan semakin turun jika terlalu sering diberikan, selain itu anak tidak pernah puas dan anak merasa tidak menemukan ketertarikannya lagi. Sebenarnya penghargaan bisa diberikan melalui pelukan, senyuman, dan hal-hal yang bersifat sosial. Meskipun benda, usahakan benda yang berdaya guna. “Anak yang sudah tahu nilai uang, cenderung mengumpulkan lalu membelajakannya, anak pun jadi konsumtif” katanya.

Januarani memaparkan, usia dua tahun anak sudah bisa diajarkan untuk mengendalikan kebutuhan materinya. Misalnya, ketika membawa anak berbelanja di supermarket, minta anak membuat daftar kebutuhannya sendiri dengan membuat gambaran sederhana dari barang-barang tersebut seperti diapers, permen, dan sebagainya. Jangan lupa tanyakan seberapa penting barang-barang tersebut baginya. Jika anak mencantumkan jumlah barang terlalu banyak, jangan langsung membelalakan mata. Coba diskusikan jumlahnya sesuai kebutuhan dan manfaatnya. Lalu tekankan akibatnya jika anak membeli terlalu banyak. Luangkan waktu mengobrol dengan anak membicarakan segala hal termasuk konsep materi sampai ketika anak ingin membeli sesuatu. “Jangan membeli barang yang tidak tercantum dalam daftar pribadinya, meski anak merengek. Diperlukan sikap konsisten dari orangtua” kata Januarani.

Orang sekarang cenderung berisiko kekurangan vitamin dan mineral. Begitu juga bayi dan anak. Pola menu, gaya makan, dan pilihan bahan makanan yang salah, menambah besar risiko kekurang zat gizi mikro. Rasa takut kekurangan vitamin, menyebabkan orang merasa harus untuk minum vitamin setiap hari. Demikian pula halnya pada bayi dan anak, perlukah diberikan vitamin tambahan?

Alam menyediakan semuanya
Dunia medis mengajak tidak perlu minum vitamin. Semua zat gizi sudah tercukupi dari menu harian. Bumi kita sudah menyediakan segala zat gizi yang tubuh butuhkan, tanpa ada satu pun yang mungkin kekurangan. Apalagi bumi Indonesia nan subur. Segala jenis sayur-mayur dan bebuahan lengkap tumbuh di sini.

Berbeda dengan orang di negara maju, yang jauh dari perkebunan dan sawah, kita beruntung bisa memetik hasil alam kapan saja. Bahkan semasih di tangkai pohon. Kita bisa mudah memperoleh sayur dan bebuahan yang masih amat segar. Kalau saja itu kita manfaatkan, mestinya tidak harus sampai kekurangan satu pun zat gizi.

Tubuh membutuhkan 40 jenis zat gizi
Selain gizi utama, tubuh membutuhkan sekitar 40 jenis zat gizi setiap hari. Tiada hari boleh kekurangan satu pun zat gizi. Terlebih yang bersifat esensial. Ada asam amino (gugus protein) esensial, selain ada juga asam lemak esensial, yang mengisi separuh jumlah zat gizi yang harus dipenuhi setiap hari.

Selama pola makan, pilihan menu, dan tidak salah menentukan bahan mentahnya, tubuh akan selalu terpenuhi kecukupan zat gizinya. Pola dan gaya makan nenek moyang kita dulu juga tidak pernah mengenal minum ekstra vitamin.

Tidak selalu bergejala
Tidak setiap kekurangan zat gizi tentu muncul gejala, tanda, atau keluhannya. Kekurangan yang masih sedikit, mungkin tidak disadari, kecuali bila dilakukan pemeriksaan darah. Namun kekurangan yang sedikit saja pun sudah bisa mengganggu kerja mesin tubuh.

Mesin tubuh yang pincang kerjanya, menurunkan kinerja dan penampilan seseorang. Bagi bayi dan anak, tentu berisiko menghambat proses pertumbuhan dan perkembangannya. Karena berbeda dengan peran gizi pada orang dewasa, pada bayi dan anak lebih untuk membangun ketimbang untuk pemeliharaan tubuh. Apalagi kalau kualitas menunya tidak lengkap, seadanya, dan kurang beragam dari hari ke sehari.

Susah makan dan monodiet
Anak sekarang lebih banyak yang susah makan. Kemungkinan lantaran jenis dietnya yang cenderung tinggi kalori. Lebih banyak mengonsumsi makanan manis dan berlemak, selain jajanan. Sinyal rasa lapar dan rasa kenyang anak menjadi kacau.

Susah makan juga berisiko kekurangan ragam zat gizi yang masuk, sehingga bisa kekurangan satu atau lebih zat gizi. Belum kalau banyak tidak sukanya. Kesalahan memperkenalkan makanan baru pada masa penyapihan menentukan selera makan anak terhadap keberagaman pilihan menu di kemudian hari.

Bagi anak yang makannya normal, namun bila meja makan ibu kurang beraneka jenis menunya dari hari ke sehari, anak akan sama berisiko kekurangan gizi juga. Jenis menu yang bolak-balik itu-itu saja lagi dari hari ke sehari (mondiet), mengantarkan anak menjadi kekurangan gizi, kendati mungkin berat badannya sudah berlebih.

Takaran asupan baru
Dalam ilmu gizi ada daftar asupan harian yang dianjurkan untuk mencukupi seluruh kebutuhan gizi tubuh atau recomended daily allowances (RDA). Namun dengan berubahnya keadaan, termasuk kondisi yang sudah disebut di atas, kebutuhan tubuh akan zat gizi perlu diperbaharui. Sekarang kita mengenal dietary reference intakes (DRI).

DRI bukan saja disusun atas dasar ilmiah mutakhir, melainkan memasukkan juga perhitungan asupan tertinggi (upper intake level) yang masih bisa ditoleransi bagi beberapa zat gizi, mengingat berubahnya pola makan, jenis sumber makanan yang dipilih masyarakat. Dalam DRI tercakup juga perhitungan asupan yang memadai atau adequate intake.

Pihak badan obat dan makanan AS (FDA) sendiri menggunakan perhitungan daily value (DV), berupa anjuran yang lebih luas untuk populasi umumnya. Ke depan DV sendiri direncanakan akan diperbaharui untuk disesuaikan dengan DRI.

Anak bukan orang dewasa mini
Bahwa kebutuhan gizi anak spesifik. Bukan dihitung dengan takaran orang dewasa yang dikecilkan. Kebutuhan gizi anak, termasuk kecukupan vitamin dan mineral memerlukan dosis khusus milik anak.

Bahaya kekurangan gizi pada anak lebih berdampak luas terhadap tumbuh-kembang ketimbang bila itu terjadi pada orang dewasa. Tidak boleh sampai kekurangan, jangan pula sampai kelebihan.

Setiap anak membutuhkan semua jenis vitamin dan mineral dalam takaran memadai. Pada anak yang makannya normal, dan menu meja makan ibu selalu beragam dari hari ke hari, dan selera makan anak bagus, kecukupan seluruh zat gizi masih mungkin diandalkan hanya dari menu harian. Maka pada kelompok ini tambahan vitamin dan mineral belum diperlukan.

Jenis makanan jadi (pabrikan) sekarang umumnya sudah dilengkapi dengan tambahan vitamin dan mineral, sehingga kekurangan gizi, mestinya tidak perlu terjadi.

Vitamin dan mineral tambahan hanya diberikan pada alamat yang tepat, dengan dosis yang sesuai dengan kebutuhan anak. Ekstra vitamin-mineral dijadikan lini kedua mencegah kemungkinan anak mengalami kekurangan yang berisiko bakal timbul. Pada anak sehabis sembuh dari sakit,pascabedah,berat badan rendah, dan selera makan kurang.

Satu hal, bahwa vitamin-mineral bukan indikasi untuk menambah nafsu makan. Ada jenis obat lain untuk mengkatrol selera makan anak. Kekurangan vitamin dan rendahnya selera makan dua hal yang berbeda.

Share artikel ini:

Artikel Terkait