Motivator Favorit Si Kecil

Dari sekian kebutuhan psikologis si Kecil, salah satunya adalah kebutuhan untuk berprestasi. Jika kebutuhan itu terpenuhi, maka dia akan merasa berharga. Rasa ini akan memperkuat kepercayaan-diri.

Lebih-lebih jika orangtua banyak memberikan dorongan dan dukungan. Misalnya, memfasilitasi dia untuk meraih prestasi itu atau menghadiahkan sesuatu yang memotivasi dia. Anak akan mengembangkan harga diri dan kepercayaan yang bagus .
 
Namun, sudah pasti hidup ini terkadang harus berjalan tidak sesuai rencana atau melenceng dari skenario. Ketika si Kecil sudah berkeinginan kuat untuk menunjukkan prestasinya, tak tahunya dia gagal.

Misalnya, gagal meraih nilai tertentu, kejuaraan tertentu, atau kegagalan lainnya. Buat dia, gagalnya sendiri sudah memberikan efek psikologis tertentu, misalnya kecewa atau kesal.

Sudah begitu, tak sedikit orangtua yang  punya pernyataan (ucapan), sikap, dan tindakan yang mendemotivasi dia. Anak kita ibarat seperti pepatah yang mengatakan: “Sudah jatuh tertimpa tangga”.

Sudah dia kecewa atas kegagalannya, masih pula harus menanggung beban jiwa dari ucapan, sikap dan tindakan kita. Keadaan semacam ini, selain berpotensi merusak harga dirinya, juga kurang memotivasi dia untuk mencoba lagi atau mematahkan proses belajar.  
 
Jika terus itu kita biarkan atau kita tambah, maka perilaku kita akan menciptakan keminderan pada diri anak. Untuk mengantisipasinya, kita perlu melakukan hal-hal mendasar  yang antara lain:

Luruskan persepsi sebelum kejadian.  Pada saat masih berusaha, kita harus yakin akan bisa meraih keinginan, tapi ketika hasilnya tiba, ya kita harus menerimanya. Pemahaman ini perlu kita munculkan sebelum perlombaan atau terima raport.

Tekankan pada proses. Arahkan dia untuk memahami bahwa yang terpenting itu prosesnya, latihannya atau belajarnya, bukan hasilnya. Kalau perlu tunjukkan contoh yang mendukung. Target kita adalah proses, bukan hasil. 

Sediakan reward yang memotivasi. Ketika hasil upayanya sudah ditentukan, kita perlu menyediakan reward yang sesuai kebutuhan atau keadaannya, tidak usah berpikir kalah atau menang.

Jaga ucapan dan sikap. Persiapkan sebanyak mungkin ucapan atau kalimat yang memotivasi dia lalu itu kita hafalkan. Tujuannya adalah untuk mendorong dia mengeluarkan berbagai potensinya atau memperbaiki kekurangannya.

Buktikan dengan tindakan. Jangan sampai kita hanya  memuji atau menghibur hati, tapi realisasinya kosong. Ini akan membahayakan bila kelebihan. Anak akan salah menilai dirinya. Jadi? Setelah kita puji, kita perlu menyiapkan aksi nyata, misalnya memfasilitasi keinginannya untuk maju atau membantu dia memperbaiki kekurangannya.

Semoga bermanfaat

  * lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait