Olahraga Dasar Bagi Si Kecil

Olahraga bukan saja menyehatkan secara keseluruhan, melainkan juga investasi untuk kehidupan selanjutnya. Investasi dalam bentuk keterampilan lewat kegiatan melatih fisik yang aman dan sesuai guna memelihara tubuh. Perlu fondasi yang memadai untuk membangun aneka komponen agar mampu menunjang kebugaran yang hendaknya diawali sejak usia dini.

NALURI setiap anak untuk terus bergerak, belajar mengeksplorasi lingkungan sekitar, memperhatikan, mengenal, meraih, menyentuh, memegang, merasakan, lalu menikmati apa yang berada di dekatnya. Termasuk melakukan mobiliasi.

Mengaktifkan sekujur tubuh
Dalam mobilisasi tubuh segala kemampuan otot, sendi dan tulangnya dikerahkan untuk menghasilkan suatu pola gerakan, berjalan, berlari, melompat, melempar,  atau bentuk gerakan lain. Dan untuk itu perlu proses pembelajaran. Sebagian dibawa oleh naluri, dan sebagian lagi didapat dengan latihan.

Apa pun jenis senam kebugaran berupaya melatih pola gerakan dan pada bagian-bagian otot serta persendian agar membuahkan kesehatan. Tidak hanya menyehatkan jantung dan paru-paru sehingga aliran darah deras menyelusup ke sekujur sel-sel tubuh, melainkan juga segenap otot, sendi, dan tulang siap menghasilkan bentuk pola gerakan yang luwes, indah, stabil dan aman. Untuk itu kegiatan berolahraga senam bisa dijadikan fondasi.

Selain menguatkan otot dan sendi serta tulang, olahraga dan senam juga menambah kelenturan, serta mempertahankan keseimbangan tubuh. Bila sejak kecil terbiasa melatih keseimbangan maka pada usia selanjutnya sudah terbiasa sehingga rentan cedera.


Kecerdasan Motorik dan Keamanan Fisik
Dengan membangun fondasi berbagai bentuk gerakan sejak kecil, kecerdasan motorik sebagai salah satu bentuk kecerdasan anak, juga ikut menentukan. Jenis kecerdasan ini menentukan kemampuan olahraga anak yang dapat dikembangkan memasuki bidang olaharaga prestasi atau hanya sebagai upaya membiasakan berpola hidup menyehatkan.

Bagi orangtua, berikan anak kesempatan dan peluang untuk melakukan aktivitas fisik seluas mungkin. Selain meningkatkan kesehatannya, ikut mengembangkan pula talenta dan kecerdasan motoriknya. Dari situ pemandu bakat bisa melihat dan menemukan bibit olahragawan untuk dibina.

Orang tua tidak hanya menyuruh, namun mengajak anak bergiat gerak di luar rumah. Dasar gerak atletik bisa diterapkan dengan bermain-ria. Antara lain: berayun, berseluncur (prosotan), berjungkit di papan-jungkit, adu jalan cepat/lari, jalan mundur, jalan rintang, lompat tali, lompat di pasir (lompat jauh), engkle (lompat/jalan dengan satu kaki), lempar & terima bola, tolak batu, lempar busur/ lembing, meniti balok, merayap di rumput, berjungkir balik diatas matras. Itu semua dapat melatih anak ‘menyalurkan’ naluri motorik kasar (gross motoric) sekaligus melatih kecerdasan motorik dan spasial (kecerdasan ruang) serta keseimbangan.

Tentu saja keamanan dan keyamanan adalah proritas utama. Sebab itu, haruskan dan biasakan anak senantiasa mengenakan alat pengaman. Antara lain: pengaman kepala (helm), pengaman siku, lutut, tulang kering (kaki). Sediakan dan haruskan anak menggunakan matras untuk berjungkir balik dan bersenam. Bermain di atas rumput tebal atau pasir, juga upaya memberi keamanan.

Mencari dan Memupuk Bakat Sejak Dini
Tak mungkin menciptakan olahragawan sejati secara dadakan. Atlet unggulan dibangun sejak usia dini. Lebih dini lebih baik. Bahkan sejak usia 5 tahun segala jenis olahraga menuntut pembinaannya sudah harus dimulai.

Basis olahraga yang dibangun sejak dini juga meningkatkan rasa percaya diri dan sikap sportif anak. Semua bentuk pelatihan fisik, dan sikap mental hendaknya sudah dibangun sejak dini, sebagai basis, agar ke depan nantinya tinggal membentuknya saja apakah akan berkembang menjadi seorang atlet, atau sekadar sosok yang sehat belaka.***

Share artikel ini:

Artikel Terkait