Peluklah Dan Lepaskanlah

Judul di atas bisa Anda artikan apa adanya, tapi idealnya harus juga kita pahami arti simboliknya.  Mengapa? Ini yang akan kita bahas.

Sebagai arti apa adanya, memang sebaiknya setelah memberikan pelukan itu kita perlu melepaskan dan membiarkan. Jangan sampai pelukannya terlalu lama atau ingin terus memeluknya padahal buah hati Anda harus menjalankan tugasnya. Misalnya saat mau berangkat ke sekolah, ke kursus, atau saat ketika kita akan pergi untuk tugas. Sejauh pelukannya proporsional, maka ini  akan memberi energi yang menghasilkan ketenangan dan kepercayaan.

Sedangkan untuk arti simboliknya, judul di atas mengajak kita untuk menaati hukum keseimbangan dimana kita harus seimbang antara memberi kasih sayang (pelukan) dan memberi kesempatan untuk mandiri (melepaskan pelukan). Dua hal itulah yang sangat dibutuhkan anak dalam masa perkembangannya. Jika hukum keseimbangan itu kita langgar, terlepas kita tahu atau tidak, maka ia akan protes lalu menghukum kita. Apa hukumannya?

Terlalu banyak memberikan kasih sayang hingga membias menjadi praktek memanjakan, over-protective dan over-possessive, dapat menghilangkan kesempatan anak untuk belajar mandiri, belajar bertanggung jawab, atau belajar mengambil keputusan.

Bahkan bisa-bisa kita melanggar ketentuan Tuhan dimana kita menganggap anak itu sepenuhnya milik kita, seperti kita memiliki barang. Padahal, anak itu selain karunia, ia juga amanah (titipan), bahkan bisa juga ujian.

Orangtua sehebat apapun pasti tidak bisa melidungi anaknya seratus persen. Anak akan dipaksa kenyataan harus punya dunia sendiri dan menjadi diri sendiri. Untuk bisa sampai ke situ, si anak harus menghadapi berbagai masalah.

Berilah peluang agar anak bisa berkembang dengan masalahnya itu. Misalnya saat bertengkar dengan temannya, dimarahi guru, diingkari janji temannya, nilainya turun dan lain-lain. Doronglah anak untuk menghadapi permasalahannya sehingga ia bisa   berkembang dengan semua persoalannya. Ini adalah salah satu aksi orangtua untuk ‘melepaskan’ anaknya menghadapi masalah dan mendorongnya untuk belajar mandiri.

Kecuali memang dia menghadapi persoalan yang tidak pada kapasitanya dan itu membahayakan, misalnya bullying, atau menghadapi guru yang ucapannya tidak mendidik saat marah. Kita sebaiknya perlu cepat turun tangan.

Hukum keseimbangan pun akan protes apabila kita berlebihan melepaskan anak hingga membias menjadi kurang kasih sayang atau masa bodoh yang menempatkan anak sebagai the neglected child (anak yang terabaikan). Ini tentunya juga membahayakan.

Kalau mengacu ke sejumlah temuan1, anak yang terabaikan secara kasih sayang akan banyak mengalami masalah pribadi dan pergaulan. Misalnya sulit menyayangi dirinya dan orang lain, kurang bahagia, mudah melakukan kekerasan, pelanggaran moral, dan penyimpangan, bahkan tidak bisa ekspresif dalam berkomunikasi.

Jika kita dulu termasuk anak yang tumbuh dan berkembang dalam keadaan kurang kasih sayang, itu harus kita anggap tidak apa-apa dan sudah kita maafkan. Yang jadi masalah adalah ketika kita membiarkan anak-anak kita tumbuh dan berkembang dalam keadaan terabaikan.

Perlu diingat bahwa segala sesuatu harus sesuai porsinya, tidak kekurangan dan tidak berlebihan. Termasuk didalamnya kasih sayang yang diibaratkan dalam pelukan orangtua pada anaknya dan aksi melepaskan anak untuk belajar mandiri di saat yang tepat.

Orangtua tentunya tidak bisa terus-menerus mendampingi anak secara fisik, karena itu lah mendorong anak untuk mandiri juga merupakan satu bentuk kasih sayang orangtua.

Contoh sederhananya adalah ketika orangtua mengantar anak di hari pertama si Kecil masuk sekolah. Peluklah si anak secukupnya untuk memberinya ketenangan dan kepercayaan diri saat memasuki lingkungan yang baru. Kemudian, biarkan Ibu Guru mengambil alih selama anak di sekolah. Jika Ibu bereaksi berlebihan saat melepas anak bersekolah, anak juga akan semakin lekat dengan Ibu dan tidak berani memasuki lingkungan sekolah. Jemput kembali si Kecil saat pulang sekolah, beri ia pelukan lagi, untuk menunjukkan bahwa Ibu bangga atas keberaniannya di sekolah.

Semoga bermanfaat.

Referensi Tulisan

_____________________________

1.       Temuan lebih lengkap dapat dibaca di: Child Neglect: A Guide for Prevention, Assessment and Intervention, https://www.childwelfare.gov/ 2006 /// A service of the Children's Bureau, Administration for Children and Families, U.S. Department of Health and Human Services. Atau bisa juga dibaca di: Child Neglect, http://www.psychologytoday.com/

Share artikel ini:

Artikel Terkait