Pentingnya Anak Mengunyah Lebih Banyak

Mengunyah penting agar makanan cukup lumat untuk segera bisa dicerna oleh lambung dan usus. Kebiasaan mengunyah lebih banyak dibentuk sejak awal anak belajar mengunyah makanannya. Ibu sendiri yang harus membiasakan anak sejak awal agar mengunyah lebih banyak sebelum menelannya. Kebiasaan ini menyehatkan bukan saja bagi pencernaan, namun dapat menghasilkan metabolisme yang lebih sempurna.

TIDAK masalah makanan yang disuap ke dalam mulut anak sekalipun langsung ditelan. Namun dalam bentuk makanan padat yang masih belum lumat akan membebani lambung untuk menggilingnya. Pekerjaan lambung akan bertambah berat jika makanan yang tiba di lambung belum siap dicerna, dan diserap sebagian.

Bercampur sempurna dengan liur
Mengunyah merupakan proses seperti mencincang makanan, selain agar pekerjaan lambung menjadi tidak berat, makanan yang dikunyah lebih lama, sekurang-kurangnya 30 kali, akan cukup tercampur dengan liur. Pentingnya liur tercampur dalam makanan yang kita telan karena enzim dalam air liur ini akan membantu sebagian pekerjaan pencernaan untuk memecah-mecah zat gizi dari makanan yang kita makan menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah untuk diserap dan masuk ke aliran darah.

Liur sendiri mengandung enzim pemecah karbohidrat yang berasal antara lain dari nasi, mi, ubi, ketela, jagung, atau sagu, menjadi gula sederhana atau glukosa. Makanan sumber karbohidrat bisa diubah menjadi glukosa untuk digunakan sebagai sumber tenaga. Makin lama makanan dikunyah, semakin banyak liur yang tercampur, dan semakin cepat makanan meninggalkan lambung menuju usus untuk dicerna lebih lanjut, kemudian diserap masuk ke dalam aliran darah sebagai gula siap pakai.

Jadi, dapat terlihat bahwa fungsi geligi kita memang untuk mencincang dan melumatkan makanan hingga menjadi seperti bubur, bukan saja yang keras, melainkan untuk makanan yang tidak keras sekalipun. Semakin lumat suatu makanan, makan akan semakin memudahkan penyerapan zat gizi yang dikandungnya.

Kesehatan rongga mulut
Begitu anak sudah mulai bertumbuh geliginya, maka perlu diberikan makanan yang bertekstur secara bertahap agar anak terbiasa untuk mengunyah. Selain untuk melatih terampil makan juga untuk menguatkan gusi dan rahangnya. Mengunyah makanan terutama yang berserat misalnya buah dan sayur, selain memberi nilai gizi sekaligus dapat membersihkan mulut. Dapat dilihat bahwa sehabis anak mengunyah sayur atau buah, lidahnya akan terlihat bersih. Sebaliknya anak yang jarang mengkonsumsi buah atau sayur dan sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang manis, lidahnya akan terlihat kotor, putih-putih, dan mulutnya berbau.   

Anak yang rongga mulutnya sedang bermasalah, antara lain, radang gusi, sariawan, luka di selaput lendir mulut, termasuk bila ada gangguan pada geligi, dapat menjadikan anak malas mengunyah lebih lama. Bahkan tidak jarang anak malah menolak diberi makan.

Kebersihan rongga mulut menjadi penting mengingat perlunya makanan dikunyah lebih sering. Bila rongga mulut tidak dijaga kebersihannya, kuman dapat bertumbuh secara berlebihan dan dapat mengganggu kesehatan gigi. Sisa makanan yang terselip di gigi menjadi penyebab gigi keropos, radang gusi. Gigi keropos yang dibiarkan, lama-kelamaan dapat merusak bagian vital dari tubuh gigi. Padahal di sana terletak saraf dan pembuluh darah. Bila bagian vital ini sudah tercemar oleh kuman, maka kerusakan gigi akan lebih buruk. Gigi mungkin tidak dapat dpertahankan lagi.

Gigi yang sudah dicabut sebelum waktunya, bukan saja akan mengganggu keluarnya gigi tetap sehingga arah tumbuhnya menjadi tidak beraturan, melainkan kemampuan anak mengunyah menjadi kurang sempurna. Gigi yang lengkap dan utuh dibutuhkan agar proses mengunyah berlangsung mulus, dan hasilnya optimal.

Selapur lendir pada rongga mulut sering bermasalah bila tumbuh sariawan. Penyakit ini sering terjadi bila anak kurang zat gizi, khususnya vitamin C, B, dan vitamin A selain juga sejumlah mineral tertentu.

Maka bila ingin rongga mulut anak tetap sehat, kita perlu memperhatikan kecukupan dan kelengkapan gizi menu hariannya. Anak yang kurang menyukai sayuran dan buah-buahan harus dibiasakan untuk mengkonsumsinya. Jika anak sudah telanjur menderita sariawan, dapat diberikan suplemen vitamin dan mineral sehingga dapat segera menyembuhkan sariawannya.

Selain itu hal yang wajib dilakukan adalah menggosok gigi secara teratur sekurang-kurangnya setiap habis makan. Jenis makanan berkarbohidrat, dan segala yang serba manis merupakan sumber perusak gigi. Cara menggosok gigi yang benar, menentukan apakah perawatan gigi tergolong berhasil.

Memilih jenis menu
Satu hal perlu pula dipikirkan, dalam memilih menu untuk anak, sebaiknya memilihkan jenis menu yang mudah dicerna, bukan yang keras dan alot. Kemudahan mengunyah hingga lumat perlu didahulukan. Tahu, tempe, daging cincang, tentu lebih memudahkan anak untuk mengunyahnya dibandingkan empal (daging goreng). Menu seperti abon, telur dadar, dan nasi tim sebaiknya lebih dipilih karena lebih mudah dicerna.

Begitu pula dengan sayuran. Tauge, bayam, wortel, dan labu, lebih mudah dikunyah dan lebih mudah lumat dibandingkan sawi, buncis, atau kacang panjang. Merajang jenis sayur yang lebih keras sehingga lebih tipis dan halus, akan memudahkan anak untuk mengunyahnya.

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan

Share artikel ini:

Artikel Terkait