Peran Ganda Ibu dan Kebutuhan Bayi

Peran Ganda Ibu dan Kebutuhan Bayi

Adanya ibu yang berperan ganda memang sesuatu hal yang biasa kita temui dalam kehidupan masyarakat selama ini. Berbagai hal bisa menjadi faktor penyebab mengapa seorang ibu berperan ganda. Misalnya karena keadaan ekonomi keluarga yang kurang mencukupi, ingin lebih bisa mandiri dan lebih bebas dalam menggunakan uang, ingin mengamalkan ilmu atau pendidikan yang telah ditempuh, ingin berkarya atau berkarier di tengah masyarakat sebagai salah satu bentuk aktualisasi diri, dsb.

Adanya faktor-faktor penyebab tersebut, akhirnya membuat seorang ibu tidak hanya menjadi tipikal ibu rumah tangga yang tugas dan kewajibannya hanya mengurus rumah atau keluarga, melainkan ia juga mempunyai kewajiban-kewajiban lain di luar mengurus keluarga, seperti harus bekerja di kantor, bekerja di sawah, berdagang, mengajar di sekolah, menjadi profesional, dsb

Namun demikian, bila kita melihat kembali pada sifat kodrati ibu sebagai mahluk yang diberi kelebihan oleh Tuhan untuk mengandung, melahirkan dan menyusui bayinya maka kita akan menyadari bahwa tugas dan kewajiban ibu tidak akan lepas dari kewajiban merawat dan mengasuh anak-anaknya. Apalagi dengan adanya sifat “keibuan”, kelemah lembutan dan kesabaran serta ketegaran seorang wanita semakin membuktikan bahwa wanita secara kodrati memang sangat cocok untuk mengurus dan merawat keluarga.

Untuk bisa melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya secara kodrati, maka seorang ibu - terlebih lagi ibu yang berperan ganda - dituntut untuk trampil dalam mengatur waktu, tenaga dan fikirannya agar tetap mampu memberikan kualitas pengasuhan yang baik kepada anak-anaknya, terutama kepada bayinya yang secara naluriah masih sangat bergantung pada ibu.

Seorang bayi dengan berbagai keterbatasannya sebagai makhluk yang baru dilahirkan ke dunia, memiliki banyak kebutuhan yang harus dipenuhi agar ia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Misalnya kebutuhan akan makanan yang bergizi, pakaian, kasih sayang, perhatian, stimulasi, kesempatan untuk berkembang, dsb. Kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuhi melalui peran aktif orang-orang yang dekat dengan bayi, terutama sosok ibu, sebagai orang yang telah mengandung dan melahirkannya ke dunia. Ibu sebagai lingkungan utama dan pertama bagi bayi, akan menjadi sosok yang sangat berarti bagi bayi.

Hal ini terlihat,misalnya dalam aktivitas ibu pada waktu menyusui bayinya. Seorang bayi tidak hanya dapat terpenuhi kebutuhan makan dan minumnya. Tapi juga dapat terpenuhi kebutuhannya akan rasa aman, kehangatan, kenyamanan dan ketenangan, melalui sentuhan lembut, dekapan hangat, senyum dan tatapan mata yang teduh dari sang ibu terhadap si bayi pada saat bayi menyusu. Hal ini sangat bermanfaat bagi bayi dalam mendukung tumbuhnya rasa percaya diri, optimisme dan kemandiriannya kelak. Hal ini sangat penting bagi anak sebagai modal dasar untuk dapat mengarungi kehidupannya dengan baik di era globalisasi yang penuh tantangan dan persaingan yang ketat.

Aktivitas menyusui dengan memberikan ASI merupakan salah satu contoh peran ibu yang sangat berarti bagi bayi, yang sekaligus menunjukkan bagaimana peran seorang ibu tidak dapat digantikan oleh orang lain. Aktivitas menyusui bayi berbeda dengan aktivitas lain yang dapat digantikan oleh orang lain seperti menggantikan popok bayi, memandikan bayi, menyuapi bayi, dsb.

Melihat sedemikian pentingnya peran ibu terhadap pemenuhan kebutuhan bayi, maka perlu diingat bahwa seorang ibu – terlebih lagi bila ia berperan ganda – hendaknya tetap berusaha mengupayakan keseimbangan antara terpenuhinya kebutuhan anak dengan kesibukannya di luar rumah. Selain itu adanya fenomena ibu yang berperan ganda juga hendaknya tidak menjadikan seorang ibu terjepit dalam situasi dilematis. Keadaan yang dapat membuatnya stres atau tidak bahagia, yang akan dapat mempengaruhi sikap dan caranya dalam merawat dan mengasuh anak. Untuk itu diperlukan dukungan, pengertian dan kerjasama dari suami dalam menjalankan peran domestik di rumah tangga. Misalnya dalam peran mendidik anak atau menjalankan tugas-tugas rumah tangga yang bisa dilakukan bersama. Khusus dalam hubungannya dengan kebutuhan bayi, maka suami-istri perlu bekerjasama dan bertanggung jawab untuk mengupayakan yang terbaik bagi bayinya. Hal ini perlu menjadi renungan bersama mengingat bahwa hidup berumah tangga adalah sebuah komitmen untuk menjalani kehidupan bersama-sama, baik dalam keadaan suka maupun duka, berat maupun ringan. Seperti kata pepatah berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Share artikel ini:

Artikel Terkait