Peraturan Boleh Sama, Tapi Pendekatan Perlu Beda

Setiap anak pasti memiliki perbedaan, walaupun terdapat beberapa kemiripan tertentu.  Perbedaan itu boleh jadi tidak saja terdapat pada bakatnya, tetapi juga pada karakternya, misalnya berbeda temparemen atau  kepribadian. “Setiap anak membutuhkan buku yang baru”, begitu katanya.

Meski mereka berbeda, tapi kita tetap punya tanggung jawab yang sama, yaitu mengasuh mereka seoptimal mungkin berdasarkan keadaan dan kemampuan kita.  Optimalisasi pengasuhan ini sulit dicapai tanpa menggunakan disiplin. Pertanyaannya adalah, haruskah disiplin itu kita samakan?

Secara umum, disiplin harus kita samakan jika keadaan, kebutuhan, dan alasannya sama. Misalnya disiplin belajar, disiplin bangun pagi, disiplin mandi pada waktunya, dan lain-lain.  Meski demikian, pendekatan yang kita gunakan untuk menegakkan disiplin itu barangkali butuh dibedakan.

Ini perlu kita dasarkan pada karakter anak. Ada anak yang cukup diingatkan dengan ucapan sekali, tapi mungkin ada yang butuh berkali-kali. Ada yang cepat menangkap, tapi ada yang lebih lama. Biasanya, untuk menemukan metode yang pas, cara yang paling tepat adalah menerapkan berbagai cara lebih dulu baru kemudian kita seleksi.

Meski kita perlu membedakan cara / pendekatan, tapi ada hal-hal yang perlu kita hindari, antara lain:

  1. Hindari pilih kasih. Anak yang mengalami pola asuh pilih kasih sangat mungkin akan melawan, membenci, atau merasa minder. Untuk menghindari persepsi adanya pilih kasih itu sangat penting untuk memperhatikan keadaan. Ada hal-hal yang harus terbuka tetapi ada juga yang tidak. 
  2. Hindari menyuap. Setiap anak, terlepas apapun perbedaanya, berhak mendapatkan imbalan atas prestasinya atau usahanya. Tapi, jangan sampai kita terjebak pada praktek menyuap. Suap itu biasanya kita berikan di depan dan tujuannya bukan untuk memotivasi anak supaya lebih baik, melainkan supaya  mengikuti kemauan kita semata.
  3. Hindari melihat kejelekannya terus dengan mengangkat perbandingan.  Misalnya kita menasehati si kakak agar berdisiplin seperti adiknya lalu mengangkat berbagai kejelekan si kakak dengan mengkritiknya.

Terlepas bahwa terkadang kita perlu menggunakan pendekatan yang berbeda, tapi yang paling penting lagi adalah menyadari kapan mulai membedakan dan kapan mengakhirinya. Jangan sampai kita kebablasan atau terlalu membeda-bedakan. Bisa-bisa nantinya malah disalahpahami.

Semoga bermanfaat.

 

* lifeskill facilitator, penulis dan learning counselor

Share artikel ini:

Artikel Terkait