Perbedaan Pendapat dalam Keluarga

Perbedaan pendapat pasti terjadi di dalam keluarga. Baik antara pasangan suami istri, anak dengan anak, maupun anak dengan orangtua. Perbedaan pendapat tentu tidak bisa dihindari, dan sebaiknya memang dihadapi saja. Tentu dihadapinya dengan cara yang bijaksana, agar justru dapat memberikan manfaat.


Melalui perbedaan pendapat anak dapat memperkuat jati diri dan karakter mereka. Disamping itu, perbedaan pendapat juga dapat membuat kita memahami karakter orang lain. Yang penting masing-masing orang tau bagaimana ia harus bersikap ketika menghadapi perbedaan pendapat.

Anak perlu tau kapan ia harus mempertahankan pendapatnya dan kapan harus menerima pendapat orang lain. Bukan hanya anak, begitu juga dengan orangtua. Belajar bagaimana bersikap ketika berbeda pendapat dengan orang lain juga merupakan proses anak untuk belajar bertoleransi.

Tapi memang perbedaan juga lah yang sering menjadi pemicu masalah, dari mulai masalah kecil sampai masalah besar, sebesar perceraian, misalnya. Karena itu, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan ketika menghadapi perbedaan pendapat, agar perbedaan ini tidak akan menimbulkan masalah yang besar.

Motif

Jika kita berbeda untuk mempertahankan “aku-egois” dan tidak mempedulikan kepentingan keluarga (pasangan, anak, dll), maka potensinya untuk menjadi masalah sangat besar. Ketika kita menyadari hal ini, kita akan tau apakah kita harus bersikukuh mempertahankan pendapat atau harus berbesar hati menerima pendapat orang lain. Sikap semacam ini yang penting juga untuk dimiliki anak. Jangan sampai anak terlalu mengalah dan menerima pendapat orang lain, walaupun mungkin pendapatnya yang benar. Tetapi jangan sampai juga ia mempertahankan pendapatnya hanya karena tidak mau kalah.

Arah / Tujuan

Selama kita berketetapan hati untuk memilih jalan memperbaiki atau mempertahankan keluarga, perbedaan apapun tidak sampai mengantarkan kita ke jurang persoalan yang kritis. Tapi kalau arah kita sudah berbeda, maka masalah kecil pun bisa memicu. Karena itu perlu selalu diingat kalau ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari perbedaan pendapat. Jangan sampai perbedaan kecil mengalahkan prinsip keluarga kita.

Porsi sikap

Ibarat bumbu masakan, kalau porsinya kurang, rasanya tidak enak, tapi kalau berlebihan, ini bisa bikin mual atau muak. Sikap kita terhadap persoalan pun begitu. Agar perbedaan tetap menjadi bumbu, maka porsinya harus pas, tidak memperuncing tapi tidak pula mengabaikan.

Cara / Pendekatan

Cara inilah yang sebetulnya punya peranan paling besar apakah perbedaan itu menjadi bumbu atau pemicu persoalan. Untuk menghindari persoalan akibat perbedaan, caranya harus variatif dan kreatif, perlu menggunakan pendekatan yang halus, dan itu syaratnya adalah tidak reaktif (langsung terbawa emosi). Menghadapi perbedaan pendapat dengan pasangan tentu berbeda dengan ketika kita berbeda pendapat dengan anak. Tentu juga akan berbeda lagi ketika kita harus menengahi anak-anak kita yang sedang berbeda pendapat. Anak perlu ditengahi dengan porsi yang sesuai, jangan sampai kita yang selalu mengambil keputusan bagi mereka. Mereka perlu belajar berdiskusi dan mencari jalan tengah. Apakah itu sepakat dalam satu sepakat, atau bahkan sepakat untuk tidak sepakat (agree to disagree).

Untuk pendidikan, anak-anak sebaiknya diberi penjelasan yang mendidik dengan bahasa yang mendorong dia untuk bersikap positif, dan kita tunjukkan cara kita serta tujuannya, jika memang pikirannya sudah sampai.

Misalnya kita memahamkan bahwa antara ayah-ibu ada perbedaan (di samping ada kesamaan) dan itu sedang kita carikan jalan penyelesaian untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lalu kita tunjukkan buktinya.

Tapi memang tidak semua perbedaan bisa ditangani dan dijelaskan seindah itu. Karena itu orangtua juga harus senantiasa memberi contoh yang baik kepada anak. Mulai dari yang sederhana, misalnya dengan kita berbesar hati mengakui bahwa pendapat kita salah, ketika ternyata memang pendapat anak yang benar.

Semoga bermanfaat

Share artikel ini:

Artikel Terkait