@shutterstock

Perfeksionis Pada Anak, Perlukah Dijauhi?

Maunya ingin memakai setelan baju yang rapi dan bagus setiap hari. Belum lagi sepatu juga harus sesuai dengan warna baju yang sedang dipakai. Ini hanyalah sebagian kecil dari sifat perfeksionis yang ditunjukkan oleh anak. Perfeksionis sendiri merupakan sifat ingin tampil sempurna dan terbaik kala bertemu dengan orang lain. Biasanya sifat demikian mudah ditemukan pada seorang figur publik maupun model demi menunjang karir atau pekerjaannya.

Lantas apakah hal ini baik buat si kecil? Kathryn Hatter, praktisi konseling anak-anak asal Amerika mengatakan perfeksionis pada anak tidak selalu buruk. Sifat ini dapat merangsang sikap perfeksionis yang ada dalam diri si kecil. Tak hanya dalam hal baju, sikap perfeksionis ini akan tercermin dalam setiap aktivitas yang dia lakukan. Misalnya dalam mengerjakan sesuatu, dia akan berusaha untuk membuat yang terbaik dan beda dari yang dibuat oleh orang lain.

Kelebihan lain dari perfeksionis ini sendiri dapat menjauhkan si kecil dari rasa kurang percaya diri dan mudah menyerah. Menurut Kathryn, orang yang perfeksionis cenderung tak mudah puas dengan satu pencapaian yang telah dia lakukan. Apalagi jika mereka merasa belum mendapatkan kesuksesan sedikit pun, mereka akan berjuang bahkan kadang sampai lupa hal-hal sederhana seperti makan, mandi dan buang kotoran. Hal ini semata-mata demi kesempurnaan dalam berkarya.

Sifat perfeksionis sebenarnya bisa dikatakan langka karena tak semua orang bisa memilikinya. Kathryn menambahkan hanya orang yang berselera tinggi dalam beraktivitas yang memiliki sifat perfeksionis. Sebenarnya hal ini tak perlu dihilangkan atau dijauhi pada si kecil, karena modal yang penting untuk membentuk karakter diri yang lebih kuat. Anda hanya perlu mengontrol sifat tersebut agar tak sampai berlebihan.

Sifat perfeksionis yang sudah menjelma menjadi sikap pada diri si kecil dapat membuatnya menjadi pribadi yang angkuh dan individualis. Dia akan enggan untuk bergaul dengan orang yang dia pikir tak sejajar dengan kelasnya. Padahal sikap ini kurang begitu disenangi masyarakat, sehingga dapat berpengaruh buruk pada kehidupan sosialnya. Batasi segala sesuatu yang dinginkan oleh si kecil. Berikan pemahaman kepadanya bahwa kesempurnaan itu diraih dengan tahapan. Tak ada kesempurnaan yang abadi dalam hidup, karena pada akhirnya setiap orang akan membaur dan saling membutuhkan satu sama lainnya.

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait