Perlukah Memperkenalkan Akar Budaya Pada Anak?

Dalam budaya itu ada yang disebut simbol dan ada yang disebut esensi. Misalnya saja budaya kita yang menganjurkan pemuda untuk berbicara kepada keluarga lebih dulu sebelum menikah. Ini simbol. Esensinya adalah menghormati keberadaan orangtua atau juga memahami pernikahan sebagai peristiwa penting. Simbol ini bisa saja tidak berlaku di bangsa lain.

Karena budaya itu memiliki simbol dan esensi, maka sangat penting memperkenalkan anak-anak akan budaya lokalnya dari sejak balita. Dalam kontek kehidupan sebagai bangsa, pesan ini bahkan sudah didengungkan oleh pendiri Republik ini dari awal. ”Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya”, begitu kata pesan itu.

Pesan itu memang sudah mulai dibuktikan oleh bangsa lain. China tetap terbuka terhadap perubahan, namun ajaran kearifan lokalnya tetap juga didominankan. Ini beda dengan di kita. Ajaran spiritual Jawa, misalnya, sudah tidak dimasukkan lagi ke dalam kurikulum, termasuk di sekolah-sekolah yang memakai simbol sejarah, seperti Budi Utomo, Gajahmada, Ken Arok, syarif Hidayatullah, dan lain-lain.

Untuk apa kita perlu memperkenalkan akar budaya pada anak-anak? Baik untuk keluarga kecil atau keluarga besar (bangsa), penanaman nilai budaya itu berguna untuk membantu mereka menjadi orang bijak (wise). Bijak di sini adalah kemampuan memilih keputusan dan pandangan hidup yang lebih membawa kebaikan di lingkungannya untuk hal-hal yang sifatnya pilihan (choice), bukan untuk hal yang sudah mutlak salahnya atau benarnya.

Budaya itu berkembang. Jika tidak diajari dari kecil, biasanya yang muncul adalah sikap yang ekstrim menerima atau menolak.

Tips Menularkan Budaya Positif Pada Anak
  1. Melalui simbol fisik: atribut, peralatan, bahasa, dan lain-lain. Dengan mengajarkan anak bahasa daerah akan menanamkan identitas kedaerahan atau sopan santun
  2. Melalui imitasi (meniru): pola pikir, pola ungkap, pola sikap, keyakinan, prilaku atau kebiasaan yang dihasilkan dari proses duplikasi dari para pendahulu
  3. Melalui pengalaman: pengalaman dalam menangani masalah, pengalaman dalam memperjuangkan keinginan, dan lain-lain. Anak akan meniru budaya orangtua dalam menangani masalah, baik yang kecil atau yang besar.
  4. Melalui pengajaran dan pembelajaran, misalnya dengan peraturan, sistem hidup, penanaman norma, story-telling, dan lain-lain

Meskipun menanamkan budaya itu penting, tetapi kalau terlalu ketat memegang budaya juga tidak baik. Jadi, yang ideal adalah proporsional. Kita tetap menanamkan budaya lama, namun terbuka terhadap budaya baru. Abraham Maslow, pakar psikologi humanis, menyebutnya dengan ungkapan “menghormati budaya”.

Kata Maslow, salah satu ciri khas orang yang telah mengaktualisasikan dirinya adalah punya kemampuan menghormati budaya: tidak kaku tetapi juga tidak meninggalkan.

"Lestarikan yang baik dari yang lama
tapi ciptakan juga hal baru yang lebih baik."

Share artikel ini:

Artikel Terkait