Pertolongan Pertama Gigitan Binatang Pada Anak

Anak berisiko digigit binatang, baik hewan peliharaan maupun hewan liar. Uniknya anak lebih sering digigit hewan peliharaan. Maka, tiap orang tua wajib mengawasi, dan bila terjadi, harus melakukan langkah-langkah pertolongan agar tidak merugikan kesehatan anak. Apa saja yang perlu diperhatikan?

DIGIGIT hewan adalah sebuah kecelakaan. Kemungkinan karena orang tua atau pengasuh anak lalai ketika menjaga anak. Pada anak balita yang aktivitasnya mengeksplorasi lingkungan sekitarnya, termasuk mendekati atau bermain dengan hewan peliharaan, tentu berbeda besarnya risiko dengan ketika ia berada di luar rumah.

Tugas orang tua untuk menjaga dan mengawasi agar anak tidak sampai terancam gigitan hewan. Tindakan pencegahan bisa segera dilakukan sekiranya berada dalam situasi yang dihadiri hewan-hewan yang berpeluang besar menggigit anak. Adapun hewan peliharaan yang dimaksud adalah anjing, kucing, tupai, kera, kuda, dan mungkin juga ular peliharaan, atau burung sekalipun. Sedangkan hewan liar bisa dari kelelawar, tokek dan juga anjing liar.

Mensterilkan luka
Sama seperti umumnya perawatan luka, prinsip pada luka gigitan adalah membebaskan luka dari kemungkinan tercemar bibit penyakit yang berasal dari gigi binatang maupun yang ada di sekitar lingkungan, namun tidak tampak oleh mata telanjang. Karena bisa saja bibit penyakit ikut masuk bersama gigitan binatangnya.

Gigitan binatang apa pun diyakini membawa bibit penyakit. Bila tidak dibebaskan dari luka, bibit penyakit akan memasuki tubuh, lalu terjadilah infeksi. Luka yang terinfeksi lebih sukar sembuh, maka perlu dicegah.

Perawatan luka perlu ditempuh dengan cara yang benar. Basuhlah luka dengan air bersih, sebaiknya air matang, dan bersihkan dengan sabun lunak. Guyur luka dengan air mengalir agar jika ada bibit penyakit pada luka, akan terhanyut oleh mengalirnya air.

Gigitan luka yang dalam perlu pembasuhan lebih teliti, agar tidak tersisa bibit penyakit di dalam luka. Jika perlu pijat sekitar luka agar keluar darah, sehingga bersamaan itu segala kotoran dan bibit penyakitnya terbawa hanyut keluar dari luka.

Setelah luka dibasuh dan bersih, keringkan dengan kain kasa steril. Bila tidak ada kipasi  dengan kipas angin sampai betul-betul kering. Jangan sentuh luka itu dengan tangan telanjang. Lalu bubuhi luka dengan alkohol atau larutan antiseptik (guyurkan/ teteskan  langsung dari botol) guna membunuh bibit penyakit sekiranya masih tersisa. 

Luka yang lebar perlu diupayakan agar menjadi rapat. Terlebih jika bentuk robekan luka  seperti mulut katak menganga, perlu bantuan dokter untuk merapatkan lukanya dengan jahitan. Pada kondisi luka sudah rapat, tutup dengan kasa steril atau  plester yang telah dibubuhi desinfektan. Karena bila luka dibuat rapat, penyembuhannya akan sempurna, nyaris tanpa menyisakan bekas parut.

Bila dirawat dengan benar, dalam hitungan hari luka akan berangsur kering. Jaga luka yang tertutup tetap kering, terlebih saat mandi. Dalam keadaan kering, proses penyembuhan luka tidak terkendala. Namun bila luka menjadi nyeri, bengkak dan meradang, berarti sudah terjadi infeksi. Sering penyebabnya adalah perawatan luka yang tidak tepat. Luka yang terinfeksi, penyembuhannya menjadi lebih lama dan biasanya menyisakan bekas parut luka.

Mencegah tetanus
Setiap luka berisiko tercemar kuman tetanus. Sebab selain di kotoran kuda, spora tetanus juga hidup di alam bebas. Maka bila luka terbuka lebar, makin besar kemungkinan tercemar tetanus. Jenis luka yang terjadi di alam bebas, di tempat kotor yang tercemar tanah, pasir, dan kotoran, ditambah lagi kalau lukanya lebar dan dalam, perlu mendapatkan perhatian sebagai luka tetanus.

Perawatan luka yang dicurigai tetanus memang seperti perawatan luka umumnya. Bedanya selain dibasuh dengan sabun, luka harus disemprot dengan larutan H2O2 (hydrogen-peroxida) yang bisa dibeli bebas di apotek. Larutan H2O2 akan menambahkan oksigen ke dalam luka, dengan tujuan agar kuman tetanus tidak dapat bertumbuh. Sifat kuman tetanus yaitu suka pada lingkungan yang tidak ada oksigen (anaerob). Luka dalam biasanya hampa oksigen. Untuk mencegah terjadinya tetanus, tidak boleh kelewat rapat menutup luka, tetap perlu ada udara mengalir memasuki luka.

Selain perawatan luka, dokter akan mempertimbangkan apakah diperlukan pemberian suntikan tetanus. Jenis suntikan tetanus ada dua, yaitu suntikan tetanus toxoid yang berisikan toxin tetanus, dan ATS (Anti Tetanus Serum) yang berisi antibody terhadap tetanus. ATS diberikan pada anak yang belum mendapatkan suntikan tetanus toxoid dalam 3 tahun terakhir karena suntikan tersebut sifatnya vaksinasi.

Gigitan ular dan penyakit rabies
Selain luka gigitan, anak juga bisa disengat kalajengking, lebah, dan serangga lain atau dipatuk hewan berbisa, seperti ular. Dari semuanya, gigitan ular berbisa paling perlu diwaspadai. Semua temuan gigitan ular harus dicurigai berbisa, walau belum tahu pasti ular itu berbisa atau tidak. Tapi kita bisa mengenalinya melalui ciri berikut: setiap ular berbisa memiliki bentuk kepala segitiga.

Luka gigitan ular berbisa perlu segera dikeluarkan darahnya sebanyak mungkin, dengan tujuan agar bisanya terbawa darah keluar dari luka. Bebat erat-erat bagian atas lokasi luka, atau yang ke arah jantung memakai pembebat kain atau apa saja, dengan tujuan agar bisa ular tidak terbawa darah menuju jantung dan otak. Segera bawa anak ke puskesmas atau rumah sakit, untuk mendapat suntikan antibisa ular (polyvalent) secepatnya, sambil tetap membebat lokasi di atas gigitan ularnya.

Lain halnya dengan gigitan anjing yang sering menimbulkan luka yang lebar. Kita perlu waspada terhadap gigitan anjing yang diduga berpenyakit rabies. Biasanya anjing liar yang terkena rabies, ciri-cirinya antara lain: banyak mengeluarkan liur, buntutnya masuk di antara dua kaki belakang, tidak bersahabat, cenderung menggigit, dan takut akan air.

Luka gigitan oleh anjing yang diduga berpenyakit rabies, harus dirawat sebagaimana umumnya luka. Perlu disabuni dan diguyur lebih teliti untuk membersihkan luka dari virus rabies. Secepatnya bawa ke puskesmas atau rumah sakit untuk mendapat suntikan antirabies. Dan anjingnya juga perlu ditangkap untuk dikarantina.***

* Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media, Pengamat Kesehatan, Health Motivator, Penulis 76 Buku Kesehatan 

Share artikel ini:

Artikel Terkait