Praremaja dan Aktivitas Keluarga

Kalau bicara usia secara umum, anak sudah bisa dibilang menjelang remaja ketika usianya 10-11-an tahun atau sudah masuk kelas 5-6 SD atau yang sederajat. Anak praremaja mulai punya kecenderungan baru, yang jelas terlihat adalah mereka mulai asyik berteman. Mereka sudah mulai memiliki teman dekat. Mereka sudah punya kelompok. Mereka sudah punya istilah BF (Best Friend) atau bahkan BFF (Best Friend Forever) versi mereka, tentunya.

Bahasa yang mereka pakai sudah mulai menggunakan idiom atau istilah yang khas  kelompok mereka sehingga orangtua tidak langsung ‘ngeh’. Mereka juga sudah mulai membicarakan ‘nilai’ lawan jenis di kelompoknya walaupun belum terlalu jauh.

Nah, sebagai efek samping dari kecenderungan baru itu, mereka mulai lebih suka di luar atau lebih suka bergaul dengan teman-temannya di sekolah atau di rumah teman yang orangtuanya jarang di rumah daripada bersama ayah-ibu atau keluarganya.

Dengan kecenderungan baru itu, seperti apakah seharusnya orangtua bersikap? Tentu, sebagai bagian dari proses perkembangan orangtua juga perlu pemahaman baru. Jangan sampai anak kita sudah berubah tapi pemahaman kita yang belum berubah. Teori-teori perubahan mengajarkan bahwa yang menjadi sumber kegagalan kita dalam menghadapi perubahan bukannya kemampuan, tetapi kita masih membawa pemahaman lama untuk menghadapi hal baru.

Tentunya lebih lanjut juga dibutuhkan pendekatan baru yang lebih cocok dengan perubahan. Jangan sampai kita  main-larang begitu saja atau main-membiarkan begitu saja sehingga anak belajar untuk  hidup dengan kendali yang minimalis. Dengan kata lain, pembatasan waktu dan kejelasan dengan siapa-siapa saja mereka bergaul menjadi penting untuk dipertegas. Bahkan sangat bagus kalau salah satu dari kita, ayah atau ibu, ikut menjadi bagian dari mereka, misalnya teman di FB atau lainnya.

Anak usia praremaja umumnya memang lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dibandingkan dengan keluarga. Di ahkir pekan mereka seringkali lebih memilih untuk pergi bersama teman-temannya daripada ikut beraktivitas keluarga, apalagi jika aktivitas tadi melibatkan kerabat lain.

Orangtua perlu mendorong anak untuk menjaga hubungan dengan anggota keluarga yang lain, karena keluarga adalah lingkungan yang optimal untuk mempelajari banyak hal, terutama nilai-nilai yang baik.

Maka yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah melibatkan mereka ke dalam aktivitas keluarga, meskipun tidak harus seintensif seperti sebelumnya. Misalnya melibatkan mereka di hari minggu saja atau ketika momen-nya pas. Ini penting sebab kita bisa mulai mengajarkan aturan sosial yang berlaku dalam pergaulan, tatakrama, etika, dan norma, misalnya ketika bertamu di rumah teman atau ketika hang out di sekolah saat sudah selesai semua aktivitas sekolah. Kompromi juga bisa dilakukan, dimana anak boleh absen sesekali atau mengajak temannya ke rumah.

Yang juga penting lagi kenapa mereka perlu dilibatkan dalam aktivitas keluarga adalah agar nilai-nilai atau standar hidup keluarga tetap menjadi sumber bagi sikap dan perilakunya atau karakternya, di samping juga supaya tetap terjalin kedekatan. Melalui aktivitas keluarga orangtua bisa menanamkan nilai-nilai keluarga pada diri anak.

Semoga bisa jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait