Prasekolah itu Menyenangkan

Berikut ini tujuh ketakutan paling umum yang dipunyai anak prasekolah dan cara mengatasinya.

  1. “Aku kangen Mama.” Halangan terbesar bagi anak prasekolah dan taman kanak-kanak adalah berpisah dari segala hal yang dekat dengannya, terutama Anda. Perhalus transisinya dengan cara mengunjungi sekolah beberapa kali sebelum sekolah dimulai. Hadiri kegiatan sekolah dan gunakan taman bermain di sekolahnya. Setiap kali anak mengunjungi sekolah barunya dan pulang dengan senyum di bibir dan melihat Anda tersenyum, dia mendapat pesan bahwa dia akan senang di sana. Jika anak tetap lengket dengan Anda seperti velcro saat musim sekolah dimulai, buat ia tahu bahwa ke sekolah akan menjadi rutinitas hariannya dan ucapkan selamat jalan dengan singkat. Setelah mengucapkan selamat jalan, guru akan mengalihkan perhatian anak dengan melibatkannya dalam permainan kesenangannya. Letakkan catatan di kotak makan siangnya (atau gambar hati yang besar jika dia belum bisa membaca) atau berikan dia “jimat” seperti buah kering atau kulit kerang. Katakan bahwa kapanpun dia menyentuh jimat itu, dia akan tahu bahwa Anda sedang memikirkannya.
  2. “Aku kecelakaan di kamar mandi.“ Jika anak Anda menyiratkan kecemasan tentang kamar madi, cari tahu alasannya. Apakah dia khawatir karena kamar mandi terlalu jauh atau karena aliran airnya terlalu kencang atau karena temannya pernah mengganggu? Bicarakan ketakutannya dan bahas cara mengatasi hal itu. Mintalah guru mengingatkan anak Anda untuk ke kamar mandi ketika kamar mandi sedang sepi. Jika semua upaya itu tidak mengobati rasa takutnya, bicaralah dengan orang tua yang lain. Jika ada anak lain mengalami masalah serupa, mungkin ada anak yang suka mengganggu di kamar mandi. Mungkin guru bisa mengajak isi kelas untuk tur ke kamar mandi dan memberikan kiat apa yang harus mereka lakukan jika mereka harus ke kamar mandi.
  3. “Aku tidak boleh mengisap jempol atau membawa boneka.” Membawa benda-benda penenang anak ke sekolah adalah hal biasa dan umumnya diperbolehkan namun peraturan ini biasanya berubah saat taman kanak-kanak. Seorang anak yang memasuki taman kanak-kanak dengan membawa boneka mungkin akan digoda oleh temannya. Begitu juga jika ia mengisap jempol. Jadi, usahakan perilaku ini hilang saat masih di preschool. Anda bisa mendorong anak untuk mulai meninggalkan selimut atau bonekanya saat akan masuk kelas dan mendapatkannya kembali ketika pulang. Selanjutnya, ia sudah bersedia meninggalkan benda kesayangannya di mobil.
  4. “Aku takut guruku jahat.” Menjelang hari pertama, anak-anak membayangkan ada sesosok monster pemakan anak kecil yang duduk di meja guru, khususnya jika sang kakak menggoda mereka dengan cerita yang berlebihan. Perkenalkan anak dengan gurunya sebelum sekolah dimulai dan beritahu dia bahwa ada beberapa teman atau kerabat yang juga berprofesi guru. Saat sekolah dimulai, Anak Anda mungkin tetap menganggap gurunya jahat jika ia melakukan hal yang berbeda dari yang Anda lakukan atau pengasuhnya lakukan. Ini kesempatan yang bagus untuk membahas peraturan di kelas dan bagaimana orang melakukan banyak hal yang berbeda. Jika sekolah sudah berjalan dalam waktu lama dan tiba-tiba anak melapor bahwa gurunya jahat, jangan terkejut. Hal itu mungkin hanya berdasarkan satu kejadian ketika ia atau satu kelas dimarahi. Kebanyakan anak kecil sulit memahami bahwa orang dewasa juga bisa frustrasi. Menjelaskan hal itu akan menenangkan anak bahwa ia tidaklah sendirian.
  5. “Saya tidak punya teman.” Jika anak Anda khawatir tidak ada seorang pun yang akan menyukainya, ajak ia bermain memory game. Minta dia mengingat bagaimana ia bertemu teman-teman yang ia punyai saat ini. Mintalah nama-nama siswa dan alamat mereka lalu hubungi yang dekat dengan Anda untuk mengadakan acara main bersama setelah sekolah dimulai. Beritahu guru jika anak Anda benar-benar pemalu. Dia akan membantu anak Anda mencari teman. Jika beberapa minggu berlalu dan anak Anda merasa sendirian, bicaralah dengan gurunya tentang kemungkinan ada penyebab lain. Beberapa anak kadang takut bermain bersama karena tidak pernah diminta ikut.

(PT. Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Parents Indonesia)

Share artikel ini:

Artikel Terkait