Prinsip & Tehnik Menanamkan Disiplin pada Anak-anak

Seorang kawan lama bercerita tentang kedua putrinya. ”Saya heran sama kedua anak saya. Selama ditinggal ibunya pulang kampung mendampingi orangtua yang sedang sakit, tapi berat badannya malah naik. Ketika ditanya apakah mereka rindu pada ibunya, mereka menjawab ”Kangen sih kangen, tetapi lebih enak kalau tidak ada ibu.”

Dalam percakapan melalui telepon dengan sang istri, si kawan bercerita tentang dialog yang ia lakukan dengan anak-anak. Diakui bahwa selama ini mereka lebih sering menggunakan kata ”jangan” dalam menanamkan disiplin.

Apa benar begitu? Belum ada pembuktian ilmiah yang mengungkap korelasi akurat antara kata ”jangan” dan berat badan. Bolehkah kita menggunakan kata ”jangan” itu dalam menanamkan disiplin? Ini pun relatif.

Apa yang kita ketahui dari buku-buku tentang bagaimana mendidik anak, itu semua adalah sains-teoritis. Ketika sains itu harus dipraktekkan, dibutuhkan yang namanya seni (art). Seni di sini maksudnya disesuaikan dengan keadaan. Biasanya, ketika kita mengabaikan keadaan atau seni, efektivitas teori sains itu malah kurang.

Kalau bicara pendidikan (teori dan seninya), ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat menanamkan disiplin tertentu pada anak-anak. Ini antara lain:

  • Pertama, menghindari hal-hal yang ekstrim. Karena dulu kita pernah salah bergaul, anak kemudian kita batasi pergaulannya sedemikian ekstrim. Karena dulu kita terlalu dikekang, anak kemudian kita bebaskan sedemikian ekstrim. Semua yang ekstrim itu kerap melahirkan out-put yang negatif.
  • Kedua, metode. Metode yang kita gunakan itu jauh lebih penting ketimbang materi yang kita sampaikan. Untuk menerapkan disiplin tertentu, terkadang perlu menggunakan kata ”jangan”, perlu menggunakan perintah, perlu menggunakan pengarahan, perlu berdialog, bahkan terkadang perlu melobi bu guru / pak guru untuk menyampaikan sesuatu. Terkadang perlu marah (tegas) tetapi terkadang perlu lembut (soft). Semua metode ini sah kita gunakan sejauh itu kita gunakan sebagai strategi (metode), bukan reaksi.
  • Ketiga, menerapkan tehnik 3F + 1S. Apa itu? F1 adalah firm (kuat). Maksudnya, disiplin itu harus berakar pada nilai keluarga atau nilai universal yang sudah pasti ”baiknya” atau ”benarnya” sambil menjelaskan contoh perilaku yang tidak baik dan tidak benar. F2 adalah fair (adil). Ini terkait dengan konsekuensi yang perlu dijelaskan / diberlakukan secara fair. Jika kesalahannya sedikit, koreksinya sedikit. Jika ketaatannya bagus, reward-nya juga bagus. Sasarannya adalah untuk memahamkan cara kerja hukum sebab-akibat di dunia ini. Disiplin sendiri bukanlah tujuan / sasaran, melainkan cara untuk mencapai sasaran (melatih bersikap fair terhadap dunia) Sedangkan F3 adalah friendly (bersahabat). Maksudnya, kita perlu menciptakan suasana yang tidak mengancam atau menegangkan (stressor). Anak menjalankannya dengan fun dan play. Kita menjelaskannya dengan bahasa yang bersahabat dan menyenangkan. Lalu apa itu 1S-nya? 1S di sini adalah specific (khusus). Terkadang, karena reaksi sesaat, kita ingin mendisiplinkan anak dalam berbagai hal dan langsung sekaligus. Biasanya ini menimbulkan kerancauan. Anaknya bingung dan kita pun bingung mengukurnya. Lebih-lebih jika diiringi dengan kata ”harus begini” atau ”jangan begitu”.

Jadi, disiplin itu perlu kita pilih untuk hal-hal yang sangat spesifik dan bertahap. Ini dimulai dari yang kongkrit yang akibatnya langsung menyentuh ke anak. Misalnya saja makan, tidur, atau mandi. Setelah itu barulah melangkah ke yang abstrak, misalnya saja membaca buku, membedakan kapan belajar dan kapan bermain, dan seterusnya. Tapi, ini semua tidak bisa kita praktekkan secara matematik atau saintik, melainkan secara seni (art), sesuai keadaan dan prioritas.

(src: Ubaedy)

Share artikel ini:

Artikel Terkait