Pubertas Dini

Pubertas dini adalah munculnya tanda atau bukti pubertas (kematangan reproduksi) pada anak perempuan atau laki-laki di saat usianya masih sangat anak-anak, yaitu sebelum 7-8 tahun untuk perempuan dan sebelum 8-9 tahun untuk laki-laki.

Apa sebab-sebabnya? Tidak ada penyebab utama yang bisa dijadikan suatu patokan untuk melihat segala kasus. Apakah ini menuluar? Sementara ini, para ahli menyimpulkan tidak menular. Dari kajian kesehatan dan kejiwaan, banyak ahli yag mengkaitkan ini dengan: a) kelainan hormonal, b) pengaruh zat makanan, dan c) kondisi otak tertentu.

Pengaruh makanan yang diduga dapat mempengaruhi adalah makanan yang mengandung zat kimia (DDT) dalam pestisida yang biasa dipakai membasmi nyamuk malaria atau hama tanaman. Penelitian lain mengungkap obesitas juga bisa mempengaruhi. Dan masih banyak lagi dugaan mengenai sebab-sebabnya. Pubertas dini mungkin akan butuh penanganan medis tertetu apabila sudah menimbulkan masalah yang benar-benar mengganggu kesehatan fisik dan mental anak.  

Secara umum, anak yang mengalami pubertas dini menghadapi masalah psikologi tertentu, misalnya minder, kesulitan beradaptasi, atau salah jalan dalam memilih lingkungan pergaulan. Di antara alasannya adalah karena pertumbuhan fisiknya mengalami perkembangan yang tidak seimbang dengan kematangan mentalnya. Hal ini belum lagi ditambah dengan munculnya bawaan khusus dari  menstruasi atau kematangan alat reproduksinya. 

Karena itu, yang penting dilakukan orangtua adalah memeriksakan kondisi anak ke dokter atau ahli jika itu sudah menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan kejiwaan. Orangtua juga sangat disarankan memfasilitasi anak dengan berbagai kebutuhan perkembangannya menurut usia kronologisnya, misalnya dengan mengontrol tayangan, bacaan, atau lingkungan pergaulan yang pas untuk usianya.

Penting juga untuk mendampingi dia dalam menangani stress, atau sensitivitas tertentu yang merupakan bawaan alamiyah dari munculnya bukti pubertas. Caranya adalah dengan menularkan pengetahuan atau pengalaman. Yang penting untuk dihindari adalah memojokkan, menyalahkan, atau merendahkan si anak melalui ucapan atau sikap.

Ucapan atau sikap yang bernada merendahkan itu dapat mengundang datangnya beban yang lebih berat lagi bagi dia. Mengalami pubertas dini saja sudah beban bagi dia. Kalau hal ini masih kita tambah dengan ucapan yang membebani, berarti ada dua beban yang ditanggungnya. Padahal, tugas kita sebetulnya adalah meringankan bebannya. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait