Rencana Tahunan Buat Si Kecil

Sudah perlukah si kecil kita ajak membuat rencana buat target perkembangannya? Untuk anak yang sudah memasuki usia SD, idealnya perencanaan hidup sudah mulai perlu diperkenalkan. Toh sebetulnya kita perkenalkan atau tidak, sekolahnya pun sudah mengharuskannya mencapai target perkembangan tertentu tahun demi tahun.

Dengan kata lain, memperkenalkan anak untuk membuat perencanaan untuk tahun yang akan datang itu bukan sesuatu yang mengada-ada.

Bagaimana proses memperkenalkannya? Rencana itu bisa dibuat bersama berdasarkan masalah yang dihadapi anak tahun kemarin. Misalnya nilai pelajaran tertentu yang anjlok atau kontrol emosi yang masih lemah. Bisa juga rencana itu dibuat berdasarkan keinginan yang ingin dicapai anak, misalnya ingin masuk kursus pengembangan bakat atau ingin menekuni bidang tertentu.

Apakah semua perencanaan itu harus dibuat bersama dengan si kecil? Idealnya memang anak perlu terlibat karena dialah yang menjadi subjek utama.

Tapi, jika itu belum bisa, ya setidak-tidaknya kita punya rencana pengembangan bagi mereka. Misalnya, jika kita melihat tingkat kemanjaan anak kita masih tinggi dan kita ajak dia mendiskusikannya, mungkin anak akan mengelak (denial) atau menjadi defensif.

Untuk menghindari hal itu, kita bisa mengatur kata-kata dalam mengevaluasinya sehingga anak tidak merasa diserang. Cuma, karena tujuan kita dengan perencanaan ini adalah mendidik juga, maka untuk sebagian rencana, kita perlu memposisikan anak sebagai subjek.

Pendidikan yang mendasar di sini adalah soal self-management. Anak kita mulai belajar mengatur waktu, memilih prioritas, mencapai target, mengembangkan potensi, dan juga harus fleksibel dengan keadaan namun juga harus fokus, dan seterusnya.

Beberapa hal yang juga penting dalam perencanaan adalah:

  • Usahakan ada target yang seimbang dalam memenuhi kebutuhan dasar si anak, yaitu kebutuhan fisik, sosial, mental, emosional, dan kebutuhan intelektual
  • Perlu ada tahapan yang rasional, misalnya 3 bulan atau 6 bulan
  • Jangan terlalu banyak karena nanti malah membebani atau malah tidak terlaksana
  • Pilihlah se-selektif mungkin, lalu fokus dan bertahap.
  • Bertindak sebagai facilitator yang menghibur dan memotivasi, bukan sebagai stressor
  • Memberi pemahaman pada anak mengenai proses belajar yang terkadang harus salah dan gagal

Seperti kata pakar manajemen modern, planning is not fate, it’s an aid. Rencana itu bukan nasib yang tidak bisa diubah, melainkan hanya sebuah alat bantu.

Anak kita memang harus belajar mewujudkan rencana yang telah dirancangkan bagi perkembangannya. Namun jika sudah berjuang dan belum berhasil, kita pun harus tetap mensyukuri. Sebab, dengan dia berjuang berarti dia telah belajar self-management.

Semoga bisa kita jalankan.

Share artikel ini:

Artikel Terkait