Sejumlah Kiat Memotivasi Balita Yang Pemalu

Tidak semua balita punya karakteristik sama. Ada yang pemalu, ada yang tidak. Pemalu pada balita bisa dikelompokkan menjadi dua tipe. Ada pemalu yang situasional dan ada yang mental.

 

Pemalu yang situasional dapat dibilang wajar. Misalnya dia masih malu-malu saat bertemu dengan orang baru atau masuk pada lokasi baru atau situasi baru.  Agar dia bisa cepat beradaptasi dan bersosialisasi, kita bisa melakukan hal-hal berikut ini:

 

§  Ajarkan dia cara-cara menyapa atau memperkenalkan diri yang sesuai dengan kemampuannya.

§  Ajarkan dia sejumlah kalimat untuk bertanya atau menjawab pertanyaan, misalnya siapa nama ibu, nama ayah, kota tempat tinggal kita, dan seterusnya

§  Biarkan dia mengikuti anak lain atau orang lain sebatas kita tahu dan yakin akan aman

§  Libatkan dia dalam pembicaraan, misalnya pada saat kita bertamu di rumah orang lalu kita mengajaknya untuk terlibat dalam pembicaraan secukupnya sebagai pemanasan

§  Ajaklah anak untuk merasakan dan mengalami berbagai situasi, kondisi dan lokasi untuk melatih kemampuan adaptasinya. Semakin sering kita mengajak, akan semakin bagus kemampuannya  

 

Malu tipe ini umumnya akan berlangsung sementara dan ini normal atau wajar. Yang harus cepat kita bertindak adalah ketika melihat balita kita punya rasa malu yang disebabkan oleh kondisi mental tertentu, misalnya malu yang dibarengi minder, takut, dan semisalnya.

 

Tindakan seperti apa yang dibutuhkan? Yang pertama adalah meng-audit pola asuh yang selama ini kita terapkan. Pola asuh yang cenderung memberi proteksi berlebihan, memberi koreksi berlebihan, atau kurang memberikan anak untuk menjajal inisiatifnya, dapat berpotensi membuat anak tidak pede dan pemalu 

 

Sebagai gantinya, kita bisa menerapkan pola asuh yang berpusat pada inisiatif anak. Perbanyaklah dorongan untuk bermain, terutama yang melibatkan gerakan fisik dan melibatkan kerjasama dengan anak lain.

 

Hindari memaksakan ide-ide kita ke dalam berbagai bentuk aturan, perintah dan larangan yang dasarnya ego kita,  misalnya jangan ini dan jangan itu. Meski demikian, pengawasan dan pengarahan tetap harus ditegakkan agar jangan sampai kebablasan lalu bahaya.

 

Seiring dengan perubahan pola asuh, kita perlu memfasilitasinya untuk berinteraksi dengan beragam anak, beragam situasi dan kondisi, misalnya kondangan, silaturahim atau lainnya. Ajarkan cara-cara bertanya, berkenalan, menjawab, atau bercakap-cakap.

 

Semakin sering kita memberikan fasilitas untuk berlatih, maka akan semakin bagus pula kondisi mentalnya. Dengan kompetensi yang dimiliki, balita kita akan semakin pede, mandiri, dan kaya inisiatif.

 

 Semoga bermanfaat

 

Share artikel ini:

Artikel Terkait