Sekilas Mitos & Fakta Gula Pasir

Gula, selalu dianggap biang keladi. Benarkah sebegitu "jahatnya" gula bagi kesehatan?

“Menghindari gula berarti mencegah kegemukan.”

Yang benar:
Gula memang kaya energi, terlebih bila makanan juga mengandung lemak. Bila dikonsumsi melebihi kalori yang dibutuhkan, tubuh akan menyimpannya (dengan mengubah) dalam betuk lemak dan berat badan pun naik. Menghindari gula tak berarti bebas dari risiko kegemukan sebab gula bukan satu-satunya penyebab. Ada orang yang gemuk meskipun ia tidak makan banyak gula. Sebaliknya, pada orang gemuk, mengurangi gula menjadi satu langkah efektif untuk menurunkan berat badan. Mengganti kebiasaan minum sekaleng soda dengan segelas air putih setiap hari, cukup bermakna menurunkan berat badan bila dilakukan terus menerus.

“Banyak gula menyebabkan sakit jantung.”

Yang benar:
Selama ini hanya lemak dan kolesterol yang dianggap biang keladi penyakit jantung. Sebenarnya, gula pun turut andil. Diet tinggi gula mempengaruhi kadar lemak dan kolesterol, terutama pada orang yang berbakat diabetes. Konsumsi gula secukupnya tak akan membahayakan.

“Gula menyebabkan anak hiperaktif.”

Yang benar:
Ada anggapan gula menjadi salah satu penyebab anak hiperaktif atau remaja nakal. Sebenarnya, belum ada penelitian yang dapat menunjukkan hubungan antara gula dengan hiperaktivitas. Bahkan, kebanyakan penelitian meyakinkan tak ada hubungan antara keduanya hingga anjuran mengurangi gula untuk mencegah atau mengobati hiperaktivitas belumlah didukung penelitian.

“Kecanduan gula?”

Yang benar:
Pada umumnya, tak ada makanan “termasuk gula” yang menyebabkan orang ketagihan. Yang sebenarnya terjadi, keinginan makan yang manis lebih pada pandangan seseorang tentang makanan. Contohnya, banyak orang suka coklat, tetapi tentu tak sama sukanya apabila zat aktif coklat dimasukkan ke dalam sebuah tablet. Kenikmatan saat mengunyah sebatang coklat lah yang membuat kita ingin tambah dan tambah lagi...

“Kurang gula bikin anak kurang gizi.”

Yang benar:
Sebaliknya, bila anak terlalu banyak makan gula, kemungkinan kekurangan lain nutrisi makin besar. Segelas softdrink sama kalorinya dengan setangkup roti gandum, tetapi kandungan nutrisinya berbeda. Jika si Kecil terlalu banyak makanan bergula melebihi kebutuhan kalorinya dan tak diimbangi dengan gerak-badan cukup serta aneka makanan bergizi, ia mungkin saja gemuk tetapi kekurangan nutrisi terutama vitamin dan mineral.

“Gula menyebabkan gigi berlubang.”
Yang benar:
Gula memang dapat menyumbang kerusakan gigi karena akan difermentasi bakteri, menyebabkan suasana asam yang akan mengikis lapisan gigi. Tetapi gula bukan satu-satunya penyebab. Gigi berlubang disebabkan banyak faktor a.l:

  • Paparan kuman dan invasi yang berlebihan ada di mulut (biasanya berkomuni di plak gigi)
  • Sifat gigi, misal rapuh karena mineral dan gizi lain yang membentuk gigi seperti kalsium, protein, vit D, dsb. Kurang atau tak dapat dimanfaatkan.
  • Cairan saliva yang membersihkan mulut
  • Sisa makanan (biscuit, wafer, nasi, kerupuk, pisang, kue-kue, dsb.) yang tertinggal di sela gigi.
  • Waktu: semakin lama keadaan diatas tak diatasi semakin mungkin gigi lubang.
  • Sebab-sebab lain,

Menjaga kebersihan mulut dengan membiasakan menyikat gigi secara teratur amat efektif selain memperhatikan asupan gizi dan jumlah gula dalam menu anak.

Sumber:
Whitney Ellie, Sharon Rady Rolfes. Understanding Nutrition, 10th ed. Thomson Wadsworth. 2005 J. Travis, the true sweet science. Science news 161 (2002):232-233.

(src: PT.Nestlé Indonesia bekerja sama dengan Majalah Anakku)

Share artikel ini:

Artikel Terkait