Semangat Berkompetisi Pada Anak

Semangat untuk berkompetisi adalah naluri bawaan manusia. Ini tidak bisa kita hilangkan.  Malah kalau melihat beberapa kajian psikologi, berkompetisi ini disebutnya sebagai kebutuhan dasar (human need).

Selain sudah menjadi naluri bawaan, semangat berkompetisi itu juga diciptakan oleh lingkungan, baik di keluarga atau di sekolah, dan juga di masyarakat. Ada ranking di sekolah, ada perlakuan yang berbeda di rumah, dan ada status sosial di masyarakat.

Mungkin ada pertanyaan, baguskah dorongan berkompetisi yang kita ciptakan untuk anak-anak itu? Sesungguhnya kita tidak bisa menjawab ini bagus atau jelek dari dorongannya. Dorongannya sendiri netral.

Naluri berkompetisi pun netral. Bahkan, karena ini pemberian Tuhan, sudah pasti ada gunanya. Yang menentukan baik-buruknya berkompetisi adalah sejauh mana pengelolaannya dan bagaimana itu digunakan.

Karena itu bimbingan dan pengarahan dari kita sangat dibutuhkan. Anak yang berkompetisinya rendah akan kurang termotivasi untuk menggali potensinya dan kurang menunjukkan siapa dirinya ketika mengambil keputusan.

Tapi, kalau terlalu tinggi, misalnya selalu melihat anak lain sebagai kompetitor, selalu membandingkan, atau  sering iri dengki, maka ini akan membahayakan. Dia tidak bahagia dengan dirinya dan hubungannya kurang tulus dengan orang lain.

Untuk menjaga kadar yang pas, maka latihan diperlukan. Kita perlu mendorong anak untuk menjadikan temannya yang punya prestasi lebih sebagai cermin atau inspirasi untuk menggali potensi dirinya. 

Kita tidak memaksa anak agar sama atau mengungguli anak lain. Kita tidak memberi target sama seperti anak lain. Kita mendorong anak melihat anak lain sebagai pintu untuk meningkatkan diri.

Berkompetisi secara sehat adalah mendorong anak agar menjadi the best dari dirinya, bukan untuk mengalahkan temannya. Soal ada yang kalah atau ada yang menang itu konsekuensi kehidupan, bukan sebagai tujuan utama.

Agar kadarnya tidak terlalu tinggi, kita perlu mengajarkan nilai-nilai kebersamaan. Di samping berkompetisi, kita perlu mengajarkan berkooperasi dan berkompromi melalui praktek langsung.

Misalnya di rumah kita praktekkan perlakuan yang sama, bekerjasama, saling tolong menolong, dan saling mengalah demi kebaikan bersama, dan lain-lain. Ini akan menjadi pengimbang.

Yang tidak kalah pentingnya adalah menanamkan nilai-nilai keluhuran yang bersumber dari ajaran, baik agama atau warisan leluhur.  Ini supaya cara yang digunakan anak-anak kita dalam berkompetisi itu tidak melanggar atau menyimpang.

Nilai-nilai keluhuran itu adalah penyempurna dari kekurangan kita dalam mengasuh anak-anak. Tidak ada ‘kan orangtua yang sempurna memberi pengasuhan? Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait