Seperti Apa Les Tambahan Yang Bermanfaat?

Seorang guru SD dari sebuah kecamatan di Jawa Timur sempat kaget melihat agenda harian cucunya di Jakarta yang masih duduk di SD. Jam enam pagi sudah bangun, jam dua sore baru pulang. Jam empat berangkat lagi mengikuti les bimbingan belajar, dua kali seminggu. Sisanya, masuk juga les piono dan les Bahasa Inggris. Malamnya belajar untuk persiapan pelajaran besok di kelas. Hari minggu dan hari libur, mengikuti perlombaan vokal yang menjadi kesayangan ibunya.

Si kakek yang belum pernah melihat ini seumur hidupnya, bingung dan bertanya-ke anaknya. ”Apakah anakmu ini nggak stress?” Si anak menjelaskan bahwa berbagai agenda tambahan yang dijalani cucunya, punya alasan sendiri-sendiri. Di kampung, kata si anak, arena pergaulan itu bebas dipilih dan relatif ada kontrol sosialnya. Tapi kalau di metropolitan, pergaulan seperti itu harus bayar dan ada tempatnya sendiri. Si kakek baru mulai belajar untuk mengerti.

Itulah gambaran bagaimana sibuknya sebagian anak di sebagian keluarga di metropolitan. Memang, ada banyak faktor yang membuat orangtua di daerah perkotaan yang mendorong berbagai agenda tambahan untuk putra-putrinya.

Pertanyaan yang muncul adalah, apakah praktek demikian itu akan memberikan hasil yang baik atau malah sebaliknya bagi perkembangan anak? Tentu saja ini tak bisa dijawab secara hitam-putih. Cuma, kalau melihat ke teorinya, anak-anak itu, terutama yang masih di bangku TK sampai kira-kira kelas empat SD, perlu mendapatkan kesempatan sebanyak mungkin untuk melakukan gerakan fisik.

Kenapa? Menurut Gordon Dryden (1996), bermain itu adalah jalur menuju otak. ”Ada enam jalur utama menuju otak: kelima indra (pandangan, pendengaran, peraba, pengecap, dan pembau) dan gerakan fisik”, tulisnya begitu. Pembelajaran motorik secara fisik akan membentuk dasar-dasar untuk segala proses belajar. Tanpa pembelajaran motorik, perkembangan otak si anak akan terhambat.

Selain itu, yang perlu dipertimbangkan lagi adalah alasannya. Untuk anak yang sudah duduk di bangku SD, ada beberapa alasan yang perlu didialogkan sebelum menyodorkan berbagai kursus, les, kumon, dan lain-lain pada anak. Alasan ini antara lain:

  • Untuk sosialisasi pergaulan yang relatif ada kontrol sosialnya dan termanage dengan jelas. Anak yang punya pergaulan luas akan lebih bagus ketimbang anak yang sedikit pergaulannya, apalagi kesepian di rumah karena kedua orangtuanya bekerja.
  • Untuk menjembatani kesenjangan nilai akademik yang anjlok. Dengan masuk kumon atau bimbel, anak akan memiliki penguasaan yang lebih bagus terhadap pelajaran
  • Untuk mengembangkan potensi unggulan (bakat) yang dimiliki anak. Potensi itu tidak akan berubah menjadi prestasi tanpa aktualisasi. Kursus tambahan bisa menjadi ruang aktualisasi
  • Untuk memberikan materi spesifik yang sesuai dengan nilai-nilai keluarga, misalnya privat keagamaan
  • Untuk mengungkap bakat anak yang tersembunyi. Bakat anak itu ada yang bentuknya intelektual umum, akademik khusus, kreativitas dan produktivitas, kepemimpinan, seni dan visual, atau gerakan fisik (Maryland, Jr., 1971).

Artinya, jangan sampai alasannya tidak jelas. Bahkan untuk alasan yang jelas sekalipun, kalau sampai berlebihan intensitasnya sampai membuat kapasitas inti dalam diri anak tidak berkembang secara seimbang, juga kurang baik. Kapasitas inti di sini adalah fisik, emosi, intelek, dan spiritual. Sesuatu yang tidak seimbang atau berlebihan itu kerapkali memantulkan kebalikannya.

Terakhir adalah bagaimana kita menempatkan diri pada proses itu. Tapi kalau kita harus menomorsatukan pemenuhan kebutuhan perkembangan anak, ini pemberdayaan. Semua anak membutuhkan pemberdayaan dan perlu dijauhkan sebisa mungkin dari pembebanan. Semoga bermanfaat.

Share artikel ini:

Artikel Terkait